Perempuan, Kecantikan, dan Keanggunan dalam The Necklace dan The Nightingale and the Rose

oleh -94 views
Wahyudi (dok)

Oleh: Wahyudi

Mahasiswa Sastra Asing Universitas Andalas

BERBICARA tentang perempuan dan fenomenanya, istilah kecantikan dan keanggunan akan mencuat setelah nama perempuan muncul ke diskursus. Perempuan sejatinya diidentikkan dengan kecantikan dan keanggunan rupa.

Oleh karena itu, dalam mendefinisikan kecantikan dan keanggunan, masing-masing perempuan memiliki persepsi dan sudut pandangnya masing-masing. Persepsi dan sudut pandang tersebut dipengaruhi bagaimana perempuan menilai hal-hal tertentu yang dikira akan mendukung kecantikan dan keanggunan yang melekat pada tubuh perempuan tersebut.

Dalam hal standar kecantikan dan keanggunan, ada dua cerita pendek klasik yang mendefinisikan kedua hal tersebut, yakni cerita pendek berjudul The Necklace yang dikarang oleh penulis asal Perancis bernama Henri René Albert Guy de Maupassant atau yang lebih singkat dan banyak dikenal dengan Guy de Maupassant.

Sebagai seorang yang menganut paham naturalis, Guy de Maupassant menyajikan cerita-ceritanya kehidupan manusia dalam kondisi mengecewakan dan kadang kala pesimistik. Ia juga dikenal sebagai Bapak Cerita Pendek Modern Dunia.

Cerita pendek kedua berjudul The Nightingale and the Rose. Cerita pendek kedua ini merupakan cerita pendek karangan penulis asal Irlandia bernama Oscar Fingal O’Flahertie Wills Wilde atau yang lebih dikenal dengan nama depan dan belakangnya saja, Oscar Wilde.

Selain dikenal sebagai seorang penulis, Oscar Wilde juga diketahui terkenal karena naskah drama dan novelnya. Beberapa diantaranya seperti The Picture of Dorian Gray dan yang paling sukses adalah drama berjudul The Importance of Being Earnest.

The Necklace yang dikarang oleh Guy de Maupassant menceritakan Mathilde yang sedih karena tak memiliki pakaian dan perhiasan indah untuk mengunjungi pesta.

Sebagaimana yang diceritakan tersebut, kecantikan dan keanggunan menjadi topik penting dalam hal bagaimana perempuan mendefinisikan kelayakannya.

Meski pada kenyataannya tak semua perempuan menyatakan kecantikan dan keanggunakan sebagai tolak ukur hidup, namun cerita pendek tersebut memberikan gambaran apabila hal tersebut terjadi.

Yang dapat dilihat dari tokoh Mathilde yang menjadikan kecantikan dan keanggunan sebagai sesuatu yang “mahal” dan “pantas” sedangkan kondisnya tidaklah dapat didefinisikan dengan keduanya.

Ditambah lagi, cerita pendek tersebut memposisikan ekonomi sebagai salah satu standar kecantikan dan keanggunakan yang secara gambling digambarkan sebagai perempuan yang cantik dan anggun tidak layak hidup serba kekurangan apalagi miskin.

Standar kecantikan lainnya yang ditunjukkan pengarang dalam The Necklace merujuk pada penampilan perempuan, yakni bagaimana perempuan mendeskripsikan penampilan dirinya sebagai cantik dan anggun.

Mathilde dengan tegas menyakatan bahwa cantik dan anggun berarti pakaian yang anggun dan perhiasan yang indah. Representasi ini tak sepenuhnya salah mengingat definisi cantik dan anggun dalam hal fashion di kehidupan nyata merujuk pada sandang yang mewah serta aksesoris seperti perhiasan yang mendukung kemewahan pakaian.

Lalu dari pakaian yang anggun dan perhiasan yang indah tersebut, perempuan yang merasa telah mendapatkan kecantikan dan keanggunan yang secara psikologis akan memberikan dorongan kepercayaan diri.

Standar kecantikan tersebut juga hadir dalam cerita pendek kedua. Cerita pendek berjudul The Nightingale and the Rose yang dikarang oleh Oscar Wilde menceritakan tentang standar kecantikan bertingkat.

Berkisah tentang seorang mahasiswa yang hendak berdansa dengan gadis seorang professor namun mendapat penolakan karena tidak mampu memberikan keindahan yang diinginkan si gadis.

Dari hal tersebut, definisi keindahan yang masih terkait dengan kecantikan dan keanggunan memiliki tingkatan. Seperti analogi rasa manis yang memiliki tingkatan, cerita pendek tersebut seakan-akan hendak menekankan bahwa kecantikan sekalipun memiliki tingkatan yang ditentukan oleh faktor tertentu.

Ada dua tingkatan standar kecantikan yang direpresentasikan dalam cerita pendek tersebut, yakni tingkatan sederhana dan mewah.

Tingkatan sederhana, seperti yang dirujuk oleh si gadis anak professor, adalah bunga mawar merah darah yang sedang tidak mekar di musim itu. Sedangkan tingkatan kedua adalah perhiasan dari permata yang hanya bisa diberikan orang kaya.

Tingkatan pertama yakni mawar semerah darah merefleksikan perjuangan dan pengorbanan. Dalam hal kecantikan dan keanggunan, mawar merah merupakan simbolisasi dari keanggunan yang natural yang tidak mudah didapatkan namun juga sangat rapuh.

Cerita tersebut menempatkan mawar merah sebagai kecantikan yang sederhana karena bisa didapatkan dengan harga murah,

Tingkatan kedua yakni perhiasan dari permata merefleksikan kemewahan dan kebangsawanan. Perhiasan dari permata sebagai bentuk kehormatan tertinggi dan penawaran mutlak yang tidak dapat ditolak. Pengarang berusaha memberikan batasan antara kecantikan yang biasa saja dan kecantikan yang luar biasa dari kedua tingkatan tersebut.

Ditambah lagi, keduanya sebenarnya tidaklah merujuk pada kecantikan dan keanggunan sejati namun hanya sebagai pelengkap berhubung si gadis telah memiliki gaun yang anggun dan hanya menginginkan aksesoris untuk lebih mempercantik penampilannya.

Berdasarkan kedua cerita pendek tersebut, standar kecantikan dan keanggunan yang direfleksikan dalam penampilan dua karakter perempuan merujuk pada pakaian dan aksesorisnya.

Baik dalam The Necklace dan The Nightingale and the Rose, standar kecantikan ditunjukkan dari keanggunan gaun dan kemewahan aksesorisnya yakni perhiasan.

Penolakan dari kedua karakter wanita dalam kedua cerita tersebut merujuk pada standar kecantikan dan keindahan yang tertinggi, yakni kemewahan yang direpresentasikan dengan perhiasan mewah. Standar kecantikan yang ditunjukkan dalam kedua cerpen tersebut selain menunjukkan sifat alamiah manusia, juga menunjukkan permasalah ekonomi dan sifat konsumerisme.(analisa)