Pesona Bunga Rafflesia Di Balik Tabir Gunung Sago

oleh -208 views
Menyikap Bunga Raflesia di Gunung Sago penulis hasanah dan Ferdinal. (dok)

Oleh: Syarifatul Hasanah dan Ferdinal

Civitas Academica Unand

BUTET Manurung, seorang aktivis, antropolog, dan pendiri sokola rimba pernah berkata, “Kami belajar tidak hanya di pondok, kalau hari cerah , kami lebih senang di alam terbuka, di bawah pohon, atau dekat sungai, atau jalan-jalan ke sana ke mari dengan buku digulung dan disemat pulpen, lalu diselip di celana atau cawat masing-masing.

Senada dengan ungkapan beliau, mungkin itu pula yang saya rasakan sebagai seorang anak yang tumbuh di kawasan kaki pegunungan. Kami menjalani hidup dengan udara kebebasan yang menyatu pekat dengan alam. Saya masih ingat, ketika saya masih duduk di bangku sekolah dasar. Waktu itu kami belum memiliki gadget canggih, play station dan barang-barang mewah semacamnya.

Saya dan teman-teman sebaya kerap kali janjian sepulang sekolah untuk mengerjakan tugas di padang rumput dekat kawasan hutan, kami bersenda gurau sembari menikmati sepoi-sepoi angin yang menyejukkan.

Salah satu hal yang juga kerap kali kami lakukan di masa-masa itu adalah berpura-pura menjadi seorang petualang. Dengan sebilah tongkat bambu kami merambah kedalam hutan, Sebenarnya tidak ada yang kami cari di sana, hanya berjalan-jalan sembari memetik beberapa buahan yang bisa dimakan lalu berlagak seolah-olah kami adalah petualang sejati.

Tumbuh dan besar bersama kearifan alam membuat saya paham betul bahwasanya banyak hal luar biasa yang ditawarkan alam kepada manusia. Keindahan alam adalah salah satunya. Alam selalu memiliki keindahan-keindahan eksotis yang selalu saja ditawarkannya kepada manusia. Tapi sayang, terkadang manusia memilih abai akan semua itu.

Sebagai seorang anak yang dilahirkan dan tumbuh besar di kaki Gunung Sago, Saya mengetahui sebuah keindahan luar biasa yang tak banyak diketahui orang. Sebuah keindahan yang hanya akan mereka temui jika mereka berani menyingkap tabir Gunung Sago. Sebuah keindahan yang menjadi pesona tersendiri gunung ini yaitu kemolekan Bunga Rafflesia yang berdiri anggun di dalamnya.

Menurut Susatya (2011) dalam sebuah buku berjudul “Rafflesia pesona bunga terbesar di dunia” dituturkan bahwasanya Rafflesia dikenal sebagai bunga tunggal terbesar di dunia. Rafflesia pertama kali ditemukan oleh Louis Auguste Deschamp yang berasal dari Perancis pada akhir abad ke 18. Rafflesia pertama kali ditemukan di Pulau Nusakambangan pada tahun 1979. Bunga Rafflesia memiliki 25 jenis dan 12 jenis di antaranya ada di Indonesia.

Dr J Arnold, seorang dokter dan penjelajah di abad ke-19 pernah berkata, “di sini (Indonesia) saya dengan senang hati memberi tahu anda apa yang saya anggap sebagai keajaiban terbesar dalam dunia tumbuhan. Sejujurnya, seandainya saya harus, saya pikir saya takut menyebutkan dimensi bunga ini, sangat melebihi setiap bunga yang pernah saya lihat dan saya dengar, untuk saya, sekarang bunga ini adalah bunga yang paling menakjubkan.

”Berangkat dari alasan yang sama, Mekarnya bunga ini di kawasan Gunung Sago yang dekat dengan tempat tinggal saya pada 2019 silam membuat saya pribadi merasa tergerak untuk melakukan studi kasus mengenai Rafflesia, bunga ini memiliki keindahan yang luar biasa dan mungkin inilah alasan mengapa bunga ini dikategorikan sebagai bunga langka.

Mekarnya bunga ini pada 2019 silam mendapatkan perhatian lebih dari masyarakat sekitar, banyak masyarakat sekitar yang datang ke kawasan hutan di kaki Gunung Sago ini untuk melihat mekarnya bunga Rafflesia. Akan tetapi keadaan ini tentu saja bisa menjadi ancaman bagi perkembangan bunga ini.

Berdasarkan penuturan warga yang tinggal dekat kawasan Gunung Sago, mekarnya bunga Rafflesia ini tidak menentu. Terkadang bunga ini mekar setelah dua tahun sekali atau bahkan sampai lima tahun sekali.

Dalam sebuah perbincangan singkat bersama bapak Ismail, beliau mengaku sebagai sosok yang pertama kali mengetahui akan keberadaan bunga ini di kawasan Gunung Sago.

Beliau menuturkan bahwasanya dia sudah melihat mekarnya bunga ini sebelum tahun 2000-an silam. Di waktu itu kepedulian masyarakat terhadap bunga ini masih sangat minim sekali karena kurangnya pengetahuan masyarakat akan eksistensi Rafflesia. Namun seiring bergulirnya tahun, seiring lahirnya sarjana-sarjana muda, pandangan masyarakat sedikit demi sedikit mulai berubah terhadap Bunga Rafflesia .

Bapak ismail adalah salah satu sosok yang cukup peduli akan kekayaan biodiversity di kawasan kenegarian Tanjuang Gadang, bahkan saat bunga ini mekar pada 2019 lalu, beliau juga merupakan salah satu warga yang menyaksikan mekarnya bunga ini secara langsung dan mencurahkan perhatian lebih terhadap bunga ini. Bahkan beliau juga turut mendampingi perangkat pemerintahan setempat untuk melakukan observasi ke tempat mekarnya Bunga Rafflesia ini.

Setiap kali mekar, bunga ini mendapatkan animo lebih dari masyarakat dan kondisi ini sebenarnya menjadi ancaman dalam pelestarian Rafflesia. Di tahun 2019 silam, pemerintah setempat sempat memagari kawasan ini namun setelah itu bunga Rafflesia ini justru layu dan mati.

Dari sini kita bisa mengambil satu kesimpulan bahwasanya bunga ini harus dibiarkan saja tumbuh liar dan kawasan tempat tumbuhnya bunga ini harusnya dijadikan sebagai kawasan konservasi Rafflesia. Akan tetapi disinilah letak titik permasalahannya, menjadikan kawasan tumbuhnya Rafflesia sebagai basis konservasi tentu bukanlah persoalan yang mudah karena juga harus memperhatikan status kepemilikan lahan.

Dalam perbincangan singkat bersama bapak Ismail ini, beliau juga sempat berkata, andaikan kita yang tinggal di kaki pegunungan bukit barisan ini memilih untuk membuka mata sedikit saja, niscaya kita akan menyadari betapa indahnya tempat tinggal kita. Saya rasa banyak masyarakat yang hari ini tidak peduli akan kekayaan hayati di daerah tempat tinggal kita, sebenarnya bukan mereka tidak peduli tapi mereka tidak menyadari jika mereka memiliki sesuatu seindah dan sepotensial itu.

Mengenai pelestarian Rafflesia ini, seharusnya ini mendapatkan perhatian penuh dari pemerintah. Dengan berbagai regulasi –regulasi preventif dari pemerintah seperti misalnya melakukan negosiasi dengan dengan pemilik lahan untuk menjadikan kewasan mekarnya Rafflesia sebagai kawasan konservasi. Dan dengan ini diharapkan agar Bunga Rafflesia dapat terjaga kelestariannya.(analisa)