Pilkada 2020, Jan Piliah Nan Gadang Ota

oleh -138 views
Pengamat Politik Yosmeri sebut secara eksplisit Cagub Sumbar 2020 baru Mulyadi dan Nasrul Abit, Senin 8/7 di Padang. (foto: dok)

Padang,— KPU RI telah menetapkan 23 September 2020 adalah Hari Pencoblosan Pilkada Serentak Nasional. Untuk Sunbar terdapat 14 Kota dan Kabupaten gelar Pilkada dan satu Pemilihan Gubernur (Pilgub) Sumbar.

Meski lebih satu tahun lagi, tapi pembicaraan soal calon dan figur pas menjadi penimpin sudah berseliweran baik di media tradisionil yakni ota lapau sampai ke group media sosial seperti facebook dan whatsapp group.

Wajar, karena menurur Pengamat Politik sekaligus Praktisi Politik Sumbar, Yosmeri, masyarakat Minang ditakdirkan menjadi masyarakat peduli politik.

Contohnya saat ini riuh-rendah soal Pilkada sudah terasa, bahkan sudah tahu banyak orang kalau sosok ini berminat baik secara kasat mata maupun sembunyi-sembunyi.

“Ada juga yang malu-malu mengirim pesan lewat pernyataan dari pihak lain dengan memuji-muji yang bersangkutan sebagai personal yang layak menjadi calon, tetapi apabila dikonfirmasi berita tentang keseriusan untuk maju, sang bakal calon itu jawabannya masih sangat normatif, alasan kalau diperintah partai atau bagi yang bukan kader partai jawabannya adalah kalau ada partai yang mengusung,”ujar Yosmeri saat dialog Pilkada dengan beberapa media Senin 8/7 di Padang.

Malah kata Yosmeri, ada jawaban mengambang bahkan klise sekali yaitu  yaitu kalau didukung rakyat. Ada pula menyatakan ke berbagai pihak sebagai calon bukan keinginan dirinya tapi banyaknya permintaan dari kalangan masyarakat. Bermacam-macam kalimat normatif itu kata Yosmeri membuktikan si bakal calon pemimpin masih ragu dan gamang, sudahlah ujar Yosmeri terus terang saja, rakyat sudah tahu kok.

Tetapi sebut Yosmeri, mereka masih gamang untuk menyatakan maju, karena dari bakal calon menjadi calon tentu melalui proses yang tidak mudah apalagi bagi yang bukan kader partai. Sebab partai tentu tidak semudah yang mereka bayangkan untuk memutuskan menyerahkan dukungan kursi kepada orang yang tidak berkeringat atau kader dadakan.

“Apalagi Parpol punya trauma masa lalu yang sering dibohongin. Setelah terpilih, umumnya partai sama sekali tidak dapat perhatian dari mereka yang terpilih, karena antara mereka dengan partai tidak punya hubungan emosional dan tidak pernah merasakan bagaimana sulitnya mengurus partai,”ujar Yosmeri.

Saat ini yang sudah banyak menyatakan akan maju Pilkada Gubernur 2020, tapi secara terang-terangan baru Mulyadi (Demokrat) dan Nasrul Abit (Gerindra). Sesuai prediksi berbagai pengamat sebelum ini mengatakan Mulyadi (MYD) dan Nasrul Abit (NA) adalah dua orang yang dipastikan maju sebagai gubernur.

Sedangkan calon PKS dan PAN masih menjadi pertanyaan apakah akan maju sebagai gubernur atau wakil gubernur. Yosmeri mengatakan, yang menarik di lapau-lapau (warung) pembicaraan tentang pemimpin Sumbar ke depan juga tidak kalah serunya. Dengan berbekal  setengah gelas kopi pembicaraan mereka bergulir mengulas calon gubernur, bupati dan walikota, bahkan ada yang meledak-ledak seakan Pilkada besok calon mereka yang akan menang.

Sebenarnya, kata Yosmeri dari aspek demokrasi hal ini sangat positif dibandingkan masyarakat yang tidak peduli terhadap siapa calon kepala daerah mereka ke depan. Dari obrolan-obrolan yang berkembang dari beberapa lapau, track record (rekam jejak) adalah menjadi perhatian utama oleh masyarakat dalam menentukan pilihan.

Framing pencitraan kadang bisa hanya menjadi bahan tertawaan, sebuah cuplikan kutipan yang terlontar dari diskusi di lapau.

Cubo caliak apo nan alah dikarajoannyo, jan dipiliah urang-urang nan gadang ota dan indak ado lakek tangannyo, indak paralu didanga lai keceknyo tapi caliak karajonyo salamoko” (coba lihat apa yang telah diperbuat, jangan pilih orang yang besar omong, prestasi tidak punya.pula. Dan tidak perlu didengar bicaranya saja, tapi lihat kerja yang telag dibuatnya)

“Artinya kita tidak boleh meremehkan kecerdasan masyarakat dalam menilai. Dengan kata lain kinerja dan prestasi adalah hal yang sangat penting bagi rakyat untuk mereferensi jatuhnya pilihan kepada calon,”ujar Yosmeri.

Yosmeri menyebutkan dari perbincangan itu dapat disimpulkan, masyarakat ternyata tidak tinggal diam dan akan menghukumnya dengan tidak memilih lagi calon-calon yang telah mengingkari janji atau yang tidak memiliki prestasi pada Pilkada 2020 nanti.

Tradisi ini sebetulnya sangat baik, sehingga pemimpin tidak sembarangan berjanji kepada publik dan berhati-hati memberikan janji yang muluk-muluk. Sekali diucapkan harus mampu merealisasikannya,

Publik kata Yosmeri akan mencatat hal tersebut sebagai rapor masing-masing pejabat terhadap jabatan yang pernah diemban. Masyarakat tidak bisa lagi dikelabui malalui untaian kata-kata manis yang bertolak belakang dengan fakta yang pernah dilakukan sewaktu menjabat.

Apapun jabatan publik yang pernah dia emban, tidak bisa luput dari penilaian dan catatan masyarakat. Masyarakat tidak suka terhadap calon yang modalnya omong doang, tetapi miskin prestasi, rakyat rindu buah karya menjadi dari pemimpin.

“Pesan bagi yang mau mencalonkan diri. Ingat kata pepatah ‘Tong kosong nyaring bunyinya’. Aia baraiak tando ndak dalam”. Oleh karena itu hati-hati dalam berjanji, berikanlah janji yang kira-kira mampu dipenuhi, sehingga tidak dicap membohongin dan menipu masyarakat. Istilah orang minang ukua bayang-bayang, bro,”ujar Yosmeri.(ichobb)