PJ Wako Payakumbuh Sidak Apotek-Apotek di Payakumbuh

oleh -272 views

Payakumbuh — PJ Walikota Payakumbuh beserta Kasatpol PP dan Dinas Kesehatan Kota Payakumbuh lakukan sidak kepada beberapa apotek di Payakumbuh serta melakukan himbauan agar apotik tidak menjual obat cair untuk sementara, pasca Sumatera Barat menjadi penyumbang kasus terbanyak ke-2 di Indonesia, setelah RSCM di Jabodetabek, Kamis (20/10/2022).

PJ Walikota Payakumbuh Rida Ananda menghimbau agar apotek untuk memberhentikan sementara penjualan obat cair pada anak, sampai ada pemberitahuan lebih lanjut kedepannya.

“Untuk jenis dan kadar obat harus ada penelitian lebih lanjut, apotek memang masih ada obat cair atau sirup, tapi kita menghimbau dan melakukan sidak kepada beberapa Apotek di Payakumbuh, untuk sementara tidak menjualnya,” ujarnya kepada Tribunsumbar.com.

Tidak hanya itu Rida Ananda juga meningkatkan kewaspadaan dan melakukan penyelidikan epidemiologi serta pelaporan khusus. Menurutnya gangguan ginjal akut progresif atipikal pada Anak ini harus kita tekan sampai 0 kasus.

“Ini merupakan langkah kita untuk menekan kasus agar berkurang bahkan kalau bisa menjadi 0 kasus di Payakumbuh nantinya. Untuk apotek-apotek yang kita sidak ternyata sudah ada yang dari kemaren menghentikan penjualan obat syrup,” ujarnya didampingi kasatpolPP dan Sekretaris Dinas Kesehatan.

Kemudian Wawan Sofianto Kepala dinas kesehatan Kota Payakumbuh mengatakan, selain menghentikan penjualan dan pemakaian obat dalam bentuk syrup, dinas kesehatan juga menghimbau agar lebih waspada.

“Masyarakat juga diminta waspada apabila ada mengalami gejala oliguria/anuria (tidak ada/kurang urine) secara tiba-tiba disertai/tanpa demam. Disertai diare, muntah, batuk pada anak 0-18 tahun agar segera membawa ke rumah sakit,” ujarnya.

Menurut Wawan untuk rujukan dengan fasilitas HCU dan PICU untuk Sumatera Barat adalah RSUD. Dr. M. Djamil Padang.

Sebelumnya, Kepala Pediatric Intensive Care Unit (PICU) RSUP M Djamil, dr. Indra Ihsan Sp.A mengatakan hingga saat ini total anak yang dirawat diruangan PICU berjumlah 20 orang hingga sekarang dan 10 diantaranya sudah meninggal dunia.

“Pada akhir Juli ditemukan dua kasus, kemudian pada Agustus terdapat 10 kasus, September ada 4 kasus, dan terdapat 4 kasus lainnya pada Oktober,” jelasnya kepada wartawan ketika konferensi pers oleh Dinas Kesehatan Sumbar bersama dokter RSUP M Djamil dan Kepala BPOM Sumbar.

Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Sumbar, Finny Fitry Yani mengatakan jumlah temuan kasus di Sumbar menjadi peringkat kedua terbanyak di Indonesia.

“Jumlah di Sumbar menjadi peringkat kedua terbanyak di Indonesia, setelah RSCM di Jabodetabek,” katanya.

Oleh Karena itu, Menurut Finny setiap masyarakat perlu meningkatkan tingkat kesadaran akan gejala dari kasus itu. Meskipun penyebab pasti dari kasus tersebut hingga saat ini masih dalam tahap penelitian. (Han)