Prilaku Sosial Budaya Masyarakat Dalam Penangulangan Covid-19

oleh -141 views
Wirdanengsih (foto: dok)

Oleh: Wirdanengsih (Dosen FIS UNP)

PRILAKU sosial budaya masyarakat dalam penanggulangan covid-19 akan dikaji dalam perspektif Antropologi Kesehatan yang merupakan kluster dalam ilmu Antropologi .

Antropologi Kesehatan merupakan kajian yang berupaya untuk memahami dan menjelaskan kaitan antara aspek sosial, budaya,biologi, dan linguist kisu isu Kesehatan. Selain itu mencoba mengkaji tentang pemahaman, pengalaman sakit dan penyebaran oleh manusia ditengah masyarakat serta mengkaji pencegahan dari bermacam penyakit dengan system pengobatan lokal masyarakat.

Prlaku sosial budaya masyarakat yang dimaksud disini adalah aksi atau tindakan yang memiliki makna, dilakukan oleh individua atau sekelompok orang, terbentuk aksiatau tindakan itu dipengaruhi oleh aspek sosial budaya masyarakat setempat, katakanlah masyarakat dimana dia berada.

Pada masa pendemi covid-19 diterapkan lah prilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) yaitu pakai masker,jaga jarak, cuci tangan dengan sabun, olah raga, berjemur dan sebagainya. Pembatasan interaksi sosial diberlakukan untuk menghindari kontak dekat dan erat lain dengan cara berdiam diri di rumah (stay at home,tidak berkerumun, tidak mudik dan sebagainya.dan masa pendemi dianjurkan untuk partisipatif dalam kegiatan sosial , kerelawanan sebagai bagian dari empati terhadapan pemasalahan di dalam masyarakat.

Dalam penerapannya masyarakat ada kecenderungan untuk melanggar separti tidak physical distancing, cenderung tidak memakai masker dan sebagainya, sebenarnya ada apa masyarakat tidak mematuhi upaya penanggulangan covid 19 dengan cara memakai masker, jarak sosial, tidak berkerumun dan sebagainya ? untuk itulah kita perlu mengetahui pemahaman masyarakat terhadap covid 19 tersebut.

Dari realita masyarakat, berkembang pemahaman masyarakat, apa itu corona, di antaranya:

(1) Corona itu menakutkan, membuat panik, dan harus melakukan tindakan pencegahan, .

(2) corona adalah peristiwa yang telah merubah tatanan kehidupan , corona sudah menganggu aktivitas mereka dalam mencari penghasilan kehidupan terutama orang yang berusaha di sector informal,

(3) corona telah mengganggu hubungan interaksi sosial masyarakat, mobilitas sosial dan telah menganggu aktivitas religi masyarakat seperti pelarangan sholat jamaah di rumah ibadah melalui kebijakan PSBB yang membatasi gerak sosial masyarakat.

Namun di sisi lain, ada masyarakat yang beranggapan bahwa corona adalah titik semangat untuk memulai Gerakan kebaikan yang selama ini mulai pudar, Gerakan kepedulian sosial , berbagi paket sembako dan alat perlengkapan pencegahan covid 19. Selain itu membuat program refleksi atas kehidupan, bagiamana keluarga ekonomi mapan dapat berbagi kepada yang kurang mapan.

Prilaku sosial budaya masyarakat adalah produk dari pemahaman masyarakat dalam kontek sosial budaya dimana masyarakat itu berada. konteks pada masa pendemi, prilaku masyarakat adalah gambaran dari pemahaman mereka terhadap pendemi itu sendiri beserta dampaknya maka untuk pengendalian prilaku masyarakat terkait dengan pendemi itu maka perlu dikaji aspek aspek yang berperan terbentuk prilaku tersebut.

Beberapa hari lagi , orang islam akan merayakan lebaran, disaat pendemi ada pelarangan mudik sebagaimana gambar di bawah ini

Jika ini dilanggar maka perlu kita mengkaji bagaimana pemahaman masyarakat antara penting mudik lebaran dengan penangulangan covid 19. Agar kita mengetahui factor penyebab pelanggaran itu dan kita bisa memahami secara kemanusiaan.

Yang jelas mudik bagi sebagaian orang memiliki kebermarnaan yang tinggi diantaranya Nilai edukasi dan makna kekerabatan dan cinta keluarga mejadi bagian warna dominan dalam kebiasan mudik, ada takbiran dan sholat idul fitri bersama, ada menyantap makanan yang khas dengan dimasak dengan kekhasan pula serta ada ziarah kubur, silaturahmi, kenangan menjadikan lebaran suatu yang bermakna, ada suasana yang akrab dengan orang tertentu, anggota keluarga, tetangga dan teman -teman.

Selain itu ada makna primordial dalam tradisi mudik, makna rindu kembali ke kampung halaman, salam kepada orang tua, kangen rumah dan perasaan lainnya. ziarah kubur memiliki makna, pulang kampung halaman dunia, dan mengingatkan pulang kampung akhirat.Selanjutnya ada makna eksistensi. Pemudik, apapun pekerjaanya memiliki kebutuhan untuk dipandang berharga dan berbuat untuk keluarga, kecederungan individu memiliki perasaan ingin diorangkan, di akui keberadaanya dan kontribusinya, maka dari situlah suatu motivasi yang tinggi untuk pulang mudik dan makna tranformatif juga bagian dari tradisi mudik lebaran ini, ada semangat, energi baru serta motivasi yang didapat pemudik. Dan tak kalah penting, mudik adalah psikoterapi religi bagi pemudik, ada kebahagiaan dunia akhirat Ketika mudik .

Dari memahami kebermaknaan mudik itu, kita bisa memahami secara kemanusiaan, kenapa mereka harus melanggar aturan itu, karena ada yang lebih hakiki dari aturan penanggulangan covid 19, mereka juga beranggapan bahwa mereka akan melaksanakan apa saja dan menerapkan protokol Kesehatan agar mereka bisa mudik dengan baik .(analisa)