RDP dengan Bank BUMN, Nevi: Harus Prioritaskan Ketahanan dan Kemandirian Pangan

oleh -114 views
Hj Nevi kembali ingatkan peran perbankan BUMN untuk jaga ketahanan dan kemandirian panganm (fdok/nzvoice)

Jakarta — Anggota DPR RI Komisi VI Hj. Nevi Zuairina meminta RNI sebagai holding pangan untuk menjadi pelopor mewujudkan ketahanan dan kemandirian pangan di Indonesia.

Hal ini ia sampaikan pada RDP Komisi VI DPR dengan PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI), PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) dan PT Bank Tabungan Negara (Persero).

Ketahanan dan Kemandirian pangan yang ia maksud adalah merealisasikan produk dalam negeri dapat memenuhi seluruh kebutuhan masyarakat di Indonesia akan pangan, sehingga polemik importasi pangan yang selama ini selalu menjadi polemik bangsa dapat kita hilangkan sehingga dapat mengurangi energi sia-sia yang selama ini selalu terjadi tiap tahun.

“Kerjasama yang harmonis antar korporasi milik negara dimana lembaga yang bertanggung jawab pada pemenuhan pangan dan lembaga yang memiliki kemampuan dalam pembiayaan saling membantu akan semakin memudahkan mewujudkan ketahanan dan kemandirian pangan,”tutur Nevi.

Politisi PKS ini mengatakan, tahun 2021 masih ada terus importasi pangan baik tanaman pangan, tanaman hortikultra maupun tanaman perkebunan. Termasuk importasi pangan produk peternakan maupun perikanan pun juga masih terus ada.

“Penugasan penguatan industri pangan dan peningkatan inklusivitas petani, peternak, nelayan dan UMKM kepada RNI di masa depan mesti dapat segera direalisasi dengan kekuatan anggaran yang ada,” ujar Hj Nevi.

Legislator asal Sumatera Barat II ini menekankan, agar riset dan pengembangan dapat terkonsolidasi dengan baik sehingga diharapkan dapat mendukung UMKM serta memastikan kestabilan di petani dan peternak.

“Keberadaan PT RNI sebagai lokomotif ketahanan pangan diharapkan mampu menstabilkan hulu-hilir. Saya berharap upaya nyata PT RNI mensejahterakan petani, peternak dan nelayan dapat menyelesaikan persoalan yang selama ini seringkali merugikan akibat adanya impor bahan pangan, harga yg anjlok saat panen raya, dan lain -lain,”ujarnya.(nzvoice)