ROMANTIKA PEMIMPIN DENGAN RAKYATNYA ( Dek Saiyo Batuah Kato )

oleh -277 views
Wanipin (dok)

Oleh: Wanipin Rajo Bujang

ADA yang nyaris hilang dalam kehidupan dunia ini. Adalah kasih sayang! Ada yang sekarat di bawah langit yang pengap.

Adalah tinggal sekeratnya rasa tenggang dan rasa hormat. Sejak tanah ulayat menjadi pabrik.

Sejak tanah liat menjadi semen, sejak lori berjalan di atas kawat, sejak cerobong asap industri mengotori udara, sejak atap seng rumah rakyat berkarat debu abu abu, sejak sungai tercemari limbah industri, apakah sejak itu pula pematang sawah berganti beton, malinkundang menjadi batu?

Tidak.

Saya tetap yakin bahwa sawah di Minangkabau tetap berpematang.

Saya tetap yakin bahwa kata nan empat masih menjadi pedoman hidup kita.

Masih hapal di luar kepala. Kata mendaki bukan kata ” meninggi”.

Kata menurun bukan kata meluncur tanpa dipikirkan. Kata melereang bukan kata taraju singik. Kata mendatar bukan kata main gas atau kata ngegas melulu.

Bukankah kata nan empat adalah kata adil? Kata pada tempatnya.

Konsep pemimpin di Minangkabau adalah didahulukan selangkah, ditinggikan seranting.

Konsep sosial di Minangkabau, duduknya sama rendah, tegaknya sama tinggi.

Begitulah. Itu tanda orang Minangkabau egaliter. Tanda sederajat.

Tanda Minangkabau teduh dan cerdas di bawah langit demokrasi dan damai di bumi saling tenggang rasa.

Belakangan ini, saya menjadi sedi h sendiri melihat fenomena dialektik terkini.

Seni berpikir kita seakan tak lagi teratur secara logis, tapi diatur oleh emosional yang kadang tak terkontrol. Sehingga cendrung melukai.

Kita seakan tak lagi teliti mengamati. Kita terjebak pada budaya saling gili , saling serang dan saling caci maki.

Saya rindu dialog yang menghasilkan solusi. Bukan dialog yang berakhir saling benci.

Saya rindu dialog yang menghasilkan buah manfaat bukan buah saling babat.

Saya rindu dialog yang tidak berbau buli, saling hina dan saling mempertajam perbedaan yang hanya menghasilkan pertikaian dan permusuhan.

Saya rindu hidup saling harga menghargai, tenggang menenggang, hormat menghormati.

Pemimpin dan rakyat saling kasih saling sayang saling rindu. Saya rindu suasana romantis antara rakyat dan pemimpinnya.

Kalau memang benar pemimpin ditinggikan seranting dan didahulukan selangkah, mengapa ranting kau patah lalu kau tusukkan ke mata pemimpin kita?

Kalau memang pemimpin didahulukan selangkah mengapa ketika pemimpin baru mulai melangkah sudah kau simpai dan kau patahkan ramai ramai?

Saya rindu, pemimpin dan rakyatnya saling berpeluk mesra di padang lapang kebahagiaan untuk bersama.

“Kata” jangan sampai kehilangan tuah. Bertuahnya sebuah kata karena ” Saiyo”.

Hilang saiyo, lanyok tuah kato.

Kato kalau tak lagi bertuah, tak lagi sakti, tak lagi keramat, maka ia akan menjelma menjadi pisau, menjadi sembilu, menjadi tombak yang saling melukai.

Saya sedih saja…dan saya tahu bahwa grup wa ini adalah grup tempat di mana berhimpunnya orang orang hebat, orang orang tokoh, orang orang pemimpin, orang cerdik pandai, orang orang terpandang dan orang orang gadang.

Saya sebagai orang ketek, sedih saja bila membaca pikiran saling menyerang, saling menjatuhkan, saling menertawai, saling membenci dan kadang kadang saling berupaya mengeksistensikan diri dan berupaya biar dianggap orang sebagai orang hebat, orang pintar dan orang yang segala galanya.

Dan saya yakin, keadaan begitu bukan di grup ini, tapi ada di grup ” lain hati”.

Sekali lagi, bukan di grup ini.

Adat di gelanggang memang begitu, penonton lebih hebat dari petarung.

Komentator lebih jago dari para kompentitor. Komentator lebih lincah ngomongnya dari mentor. Kadang kadang kejadian begitu, sering! Heh?

Kalau sekiranya budaya saling serang, saling tekan, saling hantam, saling sikut, saling simpai menjadi wabah, maka bersiaplah menerima pandemi kehancuran sosial.

Alam tidak suka dengan pertikaian. Alam membenci peperangan. Alam menolak permusuhan.

Pertikaian dan permusuhan adalah sumbu bencana.

Saya orang ketek. Maaf. Bukan siapa siapa. Saya mengajak semua insan yang punya hati menjauhi perdebatan yang menghasilkan permusuhan dan kebencian.

Saya cak inan, rakyat atau masyarakatnya tanpa gaduh dan tidak gampang disulut hoaks.

Saya bermimpi, masyarakatnya hidup harmonis dengan pemimpinnya.

Pemimpin menyayangi rakyat, rakyat menghormati pemimpin.

Pemimpin dan rakyat saling jatuh cinta bukan saling meluka.

Ayo kita seiya sekata. Dek basamo mangko kajadi.

Pemimpin menjaga rakyatnya, rakyat mendoakan pemimpinnya semoga sehat walafiat dalam rahmat dan nikmatNya.

Mari kita lakukan Gerakan Saling Cinta untuk Ranah Minang nan denai cinto.

Mari kita saling mendukung, bukan saling mendangkung atau menikung.

Mari kita saling membesarkan kawan, bukan saling membunuh karakter dan mengecilkan.

Mari kita bahagia…

Ayo, bersama kita bangun nagari yang indah ini.

Mari kita saling menghormati.

Ya Allah, sehatkan pemimpin kami, kuatkan rakyat kami dan jauhi nagari kami dari segala bencana dan marabahaya.

Mari kita sambut tanggal baru 1 September dengan semangat baru dan semoga bulan ini jauh lebih baik dari bulan yang lalu. (***)