Sadar Efek Pestisida Kimia Sintentik, Pakailah Pestisida Nabati Ekstrak Daun Sirsak, Kendalikan Hama pada Tanaman Cabai

oleh -269 views
Kegiatan pemaparan materi Dosen Unand kepada kelompok tani Harapan Maju. (foto:. dok)

Penulis:
Rachmad Hersi Martinsyah, Fitri Ekawati, Doni Hariandi, Obel, Nugraha Ramadhan, dan Irfan Suliansyah
Staf Pengajar pada Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Andalas

PRODUK hortikultura menjadi salah satu kebutuhan masyarakat di Provinsi Sumatera Barat. Terutama kebutuhan cabai yang tidak dapat dilepaskan dari kehidupan sehari-hari masyarakat Sumatera Barat. Cabai banyak digunakan sebagai bahan baku pada bahan bumbu masakan dan perindustrian mie instan, industri saus, dan industri farmasi.

Kabupaten Solok merupakan salah satu sentra pertanian hortikultura di Provinsi Sumatera Barat yang memiliki banyak kelompok tani. Salah satunya yaitu kelompok Tani Harapan Baru yang berlokasi Jorong Galagah, Kenagarian Alahan Panjang, Kecamatan Lembah Gumanti, Kabupaten Solok.

Kelompok tani yang memiliki motto “Terus Berkarya dengan Managemen Akal Sehat” ini sering melakukan kegiatan budidaya tanaman hortikultura, seperti cabai, bawang merah, kentang, tomat, kubis, bawang daun, seledri, padi beras merah, gandum, kopi, dan kayu putih.

​Dalam kegiatan budidaya tanaman, khususnya pada waktu produksi tanaman cabai, Kelompok Tani Harapan Baru sering mengalami gangguan organisme penganggu tanaman (OPT). Beberapa jenis OPT yang sering menganggu tanaman cabai kelompok petani Harapan Baru antar lain: aphids, kutu daun, dan thrips. Selain sebagai hama pada tumbuhan OPT, aphids, kutu daun, dan thrips, OPT tersebut bisa juga sebagai inang (vector) penyakit seperti virus Mosaik, Begomovirus, Tobacco Mosaic Virus (TMV), dan Tomato Spotted Wilt Virus.

Gejala dari OPT tersebut terutama yang disebabkan oleh virus adalah daun mengeriting, daun berwarna kuning, daun menguncup, daun berkarat, kerdil, bahkan dapat mengakibatkan tanaman mati. Dampak dari gangguan OPT tersebut selain dapat menurunkan hasil produksi panen petani, bahkan bisa mengakibatkan ancaman gagal panen.
​Solusi untuk mengatasi permasalahan tersebut di atas yang dialami oleh para petani pada kelompok tani Harapan Baru adalah dengan menggunakan banyak pestisida sintentik.

Pestisida sintetik digunakan mulai saat penanaman, pemeliharaan, bahkan hingga ke pasca panen. Ironisnya, pada saat aplikasi petani tidak menggunakan alat safety yang memadai. Jalan pintas solusi yang digunakan oleh para petani disebabkan oleh kurangannya pengetahuan petani mengenai tata cara penggunaan pestisida yang efisien dan efektif serta tata cara penggunaan alat safety pada saat penyemprotan, dan minimnya pengetahuan tentang bahayanya kandungan kimia yang berada di dalam pestisida sintetik tersebut. Dengan demikian, keamanan diri pada saat penyemprotan dan keamanan konsumsi hasil panen menjadi sangat memprihatinkan.

​Selain itu, penggunaan pestisida sintetik terus menerus terhadap hama dapat menyebabkan hama berevolusi menjadi resisten atau hama tahan terhadap pestisida. Senyawa kimia pada pestisida sintentik dapat juga membunuh serangga atau binatang lainnya diluar hama target. Pestisida sintentik dapat menyebabkan pencemaran lingkungan, yaitu polusi udara, air dan terutama tanah dapat mengakibatkan tanah menjadi asam, membunuh fauna tanah, serta menurunkan kesuburan tanah.

Kegiatan peracikan pestisida oleh Dosen Fakultas Pertanian Unand kepada Kelompok Tani Harapan Maju. (foto:.dok)

Melalui komunikasi intensif yang dilakukan Dosen Fakultas Pertanian Universitas Andalas bersama Mahasiswa dengan Kelompok Tani Harapan Baru telah menimbulkan kesadaran kelompok tani ini terhadap bahaya penggunaan pestisida kimia sintetik. Sehingga kelompok tani ini berharap kepada Dosen Fakultas Pertanian bersama Mahasiswa Fakultas Pertanian Unand mencari solusi bagaimana caranya mengatasi OPT yang menyerang tanaman hotikultura mereka, terutama cabai selain dengan menggunakan pestisida kimia sintetik.

Solusi yang ditawarkan kepada Kelompok Tani Harapan Baru yaitu penggunaan pestisida nabati untuk menggantikan pestisida kimia sintetik. Ketua kelompok tani, Triyana bersama anggota lainnya menyetujui akan solusi yang ditawarkan, sehingga selanjutnya dibuatlah satu kegiatan bersama antara Fakultas Pertanian Unand sebagai pembina dan bersama Kelompok Tani Harapan Baru dengan bantuan dana Bantuan Operasional Perguruan Tinggi (BOPTN) Unand dalam rangka pengabdian Ipteks Berbasis Dosen dan Masyarakat (IBDM). Di artikel berjudul :

KESADARAN AKAN EFEK PESTISIDA KIMIA SINTENTIK BERALIH DENGAN MENGGUNAKAN PRODUK PESTISIDA NABATI DAUN SIRSAK DALAM MENGENDALIKAN HAMA PADA TANAMAN CABAI

Daun Sirsak (Annona Muricata) jadi pestisida nabati solusi kendalikan pestisida kimia. (foto: dok)

Kegiatan yang dilakukan bersama tersebut adalah Pembuatan Pestisida Nabati yang berasal dari ekstrak daun sirsak (Annona muricata) yang bertujuan untuk mengendalikan hama pada tanaman cabai, terutama hama thrips dan untuk mengurangi pencemaran pestisida kimia sintetik yang sudah lama terjadi di lingkungan. Belum banyak kita ketahui bahwasannya di dalam ekstrak daun sirsak ( Annona muricata) terdapat senyawa kimia, yaitu Annonain dan Resin yang mampu membuat gerakan hama thrips semakin lambat, aktivitas makannya semakin berkurang, serta ukuran tubuh yang mengerut dan mengecil.

​Adapun cara pembuatan pestisida nabati ini dapat dilakukan dengan sederhana, yaitu daun sirsak yang tua dipotong kecil-kecil kemudian diblender bersama air dan detergen dengan perbandingan daun sirsak 100 lembar + 1 Liter Air + 2 sendok makan detergen. Setelah diblender kemudian masukkan ke dalam ember ditutup dengan kain dan diendapkan selama 12 jam.

Cara penggunaannya pertama pisahkan endapan yang di dalam pestisida dengan menggunakan kain bersih atau saringan. Habis dari penyaringan pestisida dimasukkan ke dalam tangki sprayer dengan perbandingan 1 liter pestisida nabati dicampurkan 10-15 liter air.

Semprotkan pada semua bagian tanaman cabai terkhususnya bagian tanaman yang terserang hama, lebih efektif lagi jika terkena hamanya secara langsung. Jika belum untuk digunakan pestisida dapat simpan di dalam wadah ditutup dengan rapat dengan daya simpan 2-3 minggu. Pestisida nabati juga dapat bernilai ekonomis jika dikemas dengan baik, rapi dan diberi label sehingga dapat menarik perhatian konsumen untuk membelinya.(analisa)