Saya Milik Seluruh Rakyat Sumbar

oleh -280 views
Irjen Pol Fakhrizal. (foto: dok/fagecenter)

 

Setelah saya katakan pejuang kemanusiaan seperti papa ini tidak bisa istirahat melihat kesemena menaan baru mereka setuju.

(Fakhrizal kepada anak dan istri)

NAMA Irjen Pol Drs H Fakhrizal MHum kini masuk menjadi calon gubernur Sumbar yang dinominasikan memenangkan Pilgub Sumbar, 9 Desember mendatang.

Calon gubernur berpasangan dengan Walikota Pariaman Dr Genius Umar Ssos,Msi diusung partai koalisi poros baru, Golkar, Nasdem dan PKB tiba tiba snamanya semakin melejit di Pilgub Sumbar.

Seperti apa sejarah, motivasi, persiapan dan konsep kepemimpinan Irjen Pol Drs H Fakhrizal MHum sebagai gubernur Sumbar nantinya, bertempat dikediaman pribadinya di kawasan Siteba, Nanggalo Padang, Fakhrizal didampingi istri tercinta, menerima wawancara khusus dengan wartawan, Sabtu 27 September 2020 malam.

Berikut kutipan wawancara wartawan (W) dengan Fakhrizal (fage):

*W : Assalamualaikum pak Fakhrizal, apa kabar bapak dan ibuk malam ini. Sehat ya*

Fage : Waalaikumusalam, Alhamdulillah, seperti anda lihat saya dan istri tetap enjoy menjalani kesibukan baru sebagai calon gubernur dari tiga partai pengusung dan lima partai pendukung.

*W : Sebenarnya apa motivasi Jenderal mengikuti Pilkada Sumbar ini?

Fage : Awalnya saat saya bertugas sebagai Kapolda Sumbar tahun 2017, saya didatangi banyak kalangan meminta saya maju menjadi gubernur. Mereka menyampaikan keprihatinan tentang masa depan Sumbar dan minangkabau.

Mengapa disebut Sumbar dan Minangkabau karena keduanya merupakan sisi mata uang yang jika dilihat dari aspek pancasila merupakan satu kesatuan

*W : Apa yang menggugah Jenderal memenuhi ajakan kalangan tersebut menjadi Gubernur Sumbar*

Fage : Argumentasi yang mereka sebutkan tentang masa depan Sumbar dan minangkabau itu sangat masuk di akal saya.

Oleh sebab itu, saya setelah bertemu dengan mereka, banyak merenung bahkan saya melakukan sholat istiqarah meminta petunjuk Allah.

*W : Kalau boleh tahu, bagaimana dukungan istri dan keluarga besar dengan pencaguban ini?*

Fage : Pada awalnya istri dan anak mencegah. Mereka mengatakan saya sudah terlalu lama dinas. Kapan papa istirahatnya.

Setelah saya katakan pejuang kemanusiaan seperti papa ini tidak bisa istirahat melihat kesemena menaan baru mereka setuju.

*W : Tadi anda mengatakan motivasi maju jadi gubernur karena ada masalah di Sumbar dan Minangkabau. Konkritnya seperti apa?*

Fage : (terdiam sejenak) Jadi begini. Sumatra Barat itu adalah daerah paling berperan dalam pembentukan NKRI. Keberadaanya diakui oleh pemerintah pusat dan propinsi lainnya.

Makanya, apapun bentuk kegiatan nasional orang Sumbar selalu dilibatkan, begitupun sebaliknya orang Sumbar juga mendukung segala terobosan nasional.

Tetapi belakangan ini, posisi itu sudah tidak terlihat lagi. Posisi Sumbar saat ini berubah, berubahnya menjadi tidak harmonis.

Penyebabnya itu, adalah karena faktor politik. Selama dua pilpres kita selalu kalah, dan kalahnya itu telak sekali. Ini membuat pandangan pusat ke Sumbar jadi berubah dan ini merugikan daerah.

*W : Masalah Minangkabaunya dimana. Apakah korelatif dengan masalah Sumbar tadi?*

Fage : Secara tidak langsung iya. Sebab propinsi Sumbar ini pada awalnya adalah daerah pendukung adat dan agama yang terkenal dengan filosofi Adat Basyandi Syarak, Syarak Bersendi Kitabullah.

Konotasi ‘beradat’ itu, maksudnya, apapun persoalan daerah harus dibahas baik buruknya dulu, baru kemudian diambil keputusan.

Seorang gubernur di Sumbar pada dasarnya juga seorang ninik mamak yang memiliki pola hubungan dengan cerdik pandai dan para ulama serta tokoh masyarakat lainnya.

Saat dia memainkan peran Ninik Mamak dia tidak bisa berjalan sendiri, tapi harus musyawarah dulu. Apalagi yang berkaitan dengan politik ke pusat, harus dibahas terlebih dahulu baik buruknya.

*W : Masalahnya ada dimana?*

Fage : Masalahnya, dengan kepemimpinan daerah selama beberapa tahun belakangan ini membuat posisi orang Minang yang dulu dihormati, kini tergerus.

Performance urang awak yang dulu tau dan pintar cara bermain, kini muncul sebagai stigma orang kalah.

*W : Lantas, apa relevansinya dengan pencalonan anda sebagai gubernur?*

Fage : Nah, persoalannya disini. Kalangan tadi yang meminta saya maju, mereka percaya saya mampu membalikkan posisi Sumbar dan Minangkabau seperti kita bahas tadi.

Dalam teori konsolidasi hal pertama yang harus dilihat adalah siapa tokohnya, bagaimana kiprahnya terhadap nasional dan daerah selama ini, seperti apa komitmen nasionalismenya.

Nah, syarat syarat itu ada pada diri saya. Berkaitan dengan merekat kembali harmonisasi pusat dan dserah saya mampu. Wakil saya pak Genius Umar orang dikenal pusat.

Kami berdua pasti lebih dipercaya membuhul kembali harmonisasi hubungan pusat dan daerah itu.

Begitu juga sebaliknya dengan peningkatan pahaman folosofi Minangkabau. Saya ini jenderal yang niniak mamak, sifat saya sifat Niniak Mamak. Para tokoh adat dan agama selama ini banyak berdiskusi dan membahas masalah Sumbar dan Minangkabau dengan saya.

Artinya jika Allah meridhoi saya jadi gubernur, dua hal tadi yang kita bahas, posisi pemerintah Sumbar dan filosofi Minangkabau itu dapat lagi berjalan beriringan.

Dan itu akan memberikan udara segar kembali dalam kehidupan berdaerah, berbangsa dan berbudaya.

*W : Jika disimpulkan apakah terjadi mislike dalam kepemimpinan di Sumbar saat ini?*

Fage : Saya tidak mau mengatakan hal seperti itu. Tetapi pada dasarnya, kepentingan politik apapun yang akan dicapai di Sumbar haruslah mengkedepankan sisi baik bagi daerah, jangan merugikan. Itu prinsip dan cara pandangnya.

Selama ini orang Minang berpolitik adalah untuk menegakkan marwahnya, bukan mencapai kemenangan itu sendiri. Sekarang itu yang berubah, orang Minang diajak berpolik untuk menegakan ideologi, bukan kepentingan daerah.

Akibatnya terjadi perpecahan luar biasa dan merapuhkan sendiri sendi adat dan agama orang Minang. Anda pernah lihat dan baca, bagaimana histeria orang Minang dalam pertarungan kosong satu kosong dua.

Dalam pandangan saya sebagai perwira tinggi kepolisian, kondisi itu sangat memengaruhi tatanan dan sendi sendi kehidupan orang Minang yang selama ini pintar dalam berdemokrasi dan memilih pemimpinnya.

*W : So jika memang anda dipercaya rakyat Sumbar, apa yang akan anda lakukan menghadapi keadaan di Sumbar ini.*

Fage : Satu hal yang segera saya lakukan adalah menyatukan semua elemen masyarakat Sumbar kembali. Kantor dan rumah dinas gubernur harus menjadi milik semua masyarakat Sumbar, tidak ada kotak kotak.

Saya sendiri pun bersama pak Genius Umar akan menjadi milik semua rakyat. Kaya miskin, tua muda, pejabat dan rakyat biasa, orang kota atau orang kampung, petani dan pedagang, semua elemen rakyat harus merasakan saya sebagai gubernurnya.

Setelah itu baru kita bahas bersama stake holder. Kita mau menuju Sumbar yang Sejahtera, Relegius dan Bermartabat, ini konsep aksinya. Kita setujui dan didukung DPRD, jalan.

*W : Apakah anda yakin akan memenangkan Pilgub Sumbar sehingga bisa berpikir optimis tentang follow up program visi misinya bisa berjalan seperti disebutkan tadi.*

Fage : Jadi, gini. Saya ini memang berbeda dengan yang lain. Dalam pandangan saya, rakyat itu akan memilih pemimpin mereka, apabila apa yang akan dilakukan pemimpinnya itu, sesuai dengan harapan mereka.

Tidak mungkin rakyat akan memilih gubernurnya jika dia tidak suka dengan program kerjanya.

Tentu anda akan bertanya apakah program visi misi saya membumi ke masyarakat Sumbar?  Saya jawab iya, contoh dua hal terkait dengan mengangkat kembali famor Sumbar dan Minangkabau dalam pentas nasional, saya haqul yakin akan didukung rakyat Sumbar.

Kedua, program visi misi saya yang saya katakan kepada wartawan sebelum ini, tidak spektakuler tetapi dibutuhkan rakyat juga akan didukung masyarakat Sumbar.

Artinya dari sisi kepribadian saya dan tipikal kepemimpinan niniak mamak saya, saya yakin akan dipilih para dunsanak di seluruh pelosok Sumbar.

Begitu pula dengan program visi misi saya dan pak Genius yang “mambusek dari Bumi” akan diterima rakyat Sumbar sebagai kado istimewa dalam kehidupan mereka sebagai rakyat pemerintah propinsi Sumbar (*pewawancara
Awaluddin Awe/mediacenter-fage)