‘Serangan’ Semen Tiongkok, Semen Dalam Negeri Terancam Bangkrut

oleh -144 views
Anggota DPR RI terpilih Andre Rosiade lewat siaran persnya minta Presiden Joko Widodo panggil menterinya, terkait serangan semen dari Tiongkok, Rabu 17/7 (foto: dok)

Jakarta,—Anggota DPR RI Terpilih Periode 2019-2024 Dapil Sumatera Barat I Fraksi Partai Gerindra, Andre Rosiade menerbitkan siaran pers soal ‘serangan’ Semen Tiongkok bakal gulung tikarnya semen produksi dalam negeri.

Pada siaran persnya, Andre Rosiade menduga Semen Tiongkok melakukan Predatory Pricing, akibatnya industri semen dalam negeri terancam bangkrut.

Kekinian kata Andre Rosiade kondisi pasar semen domestik mengalami kelebihan pasokan karena gencarnya semen asal Tiongkok menjual harga di bawah pasaran di pasar semen Indonesia.

Anggota DPR RI terpilih periode 2019-2024, Andre Rosiade menyampaikan, kondisi tersebut tidak boleh dibiarkan karena akan merugikan produk semen Indonesia.

“Pasar semen lokal dalam kondisi sangat memprihatinkan atau terancam bangkrut. Kenapa itu bisa terjadi karena ada kebijakan predatory pricing, di mana investor semen Tiongkok yakni semen Conch dengan sengaja menjual semen di Indonesia dengan harga merugi,”ujar Andre, Rabu 17/7.

Jadi menurut politisi top itu, industri semen lokal terancam karena semen asal Tiongkok terindikasi menjual dengan menggunakan predatory pricing.

“Sehingga semen kita yang dimotori Semen Indonesia Grup BUMN kita hancur berantakan,”ujar Andre menambahkan.

Anggota DPR RI terpilih dari Dapil Sumatera Barat I ini berujar, akibat kebijakan sepihak yang dilakukan semen Conch, berdampak langsung terhadap penjualan hingga produksi semen dalam negeri yang menurun. Andre pun mencontohkan harga semen asal Tiongkok jauh berbeda dengan semen lokal yang bisa dilihat di situs jual beli online.

“Pabrik Semen di Aceh, Semen Padang, Semen Baturaja, Semen Gresik, dan Semen Tonasa terpaksa menurunkan kapasitas produksinya, karena semen mereka tidak laku karena kalah bersaing. Juga karena kebijakan semen Conch yang terindikasi menggunakan predatory pricing itu. Di situs jual beli online harga semen lokal itu berkisar di Rp51 ribu sedangkan semen asal Tiongkok berkisar di hargap Rp34 ribu,” ujarnya.

Selain itu, lebih jauh Andre menduga jika ada agenda semen asal Tiongkok ingin mengambil alih pasar semen di Indonesia dengan langkah awal menjual murahsemennya di pasaran atau predatory pricing itu. Jika mereka berhasil menghancurkan pasar perusahaan semen dalam negeri, menurutnya tidak menutup kemungkinan jika nantinya perusahaan-perusahaan semen dalam negeri akan diambil alih oleh perusahaan semen asal Tiongkok.

“Mereka terindikasi ingin menghancurkan semen lokal, setelah hancur mereka akan take over industri semen dalam negeri ini dan ini membahayakan industri strategis kita yaitu industri semen,”tegas Andre.

Agar bisa menyelamatkan produksi semen lokal, Andre meminta kepada pemerintah khususnya Presiden Joko Widodo memanggil beberapa menteri terkait dan segera melakukan langkah-langkah solutif.

Hal tersebut bertujuan, agar BUMN di sektor semen bisa menjadi salah satu pondasi ekonomi bangsa.

“Untuk itu saya meminta pemerintah untuk segera melakukan langkah konkret untuk menyelamatkan semen kita. Apalagi asosiasi semen kita sudah berkirim surat kepada Menteri Perindustrian agar juga menghentikan dan moratorium pembangunan perusahaan semen baru dari investor luar apalagi produksi semen kita sudah over supply,” bebernya.

Andre juga meminta kepada Menteri Perdagangan untuk menghentikan segala bentuk impor klinker (bahan utama pembuatan semen). Dan juga Presiden Joko Widodo memanggil Menteri BUMN karena dianggap tidak ada pembelaan terhadap semen Indonesia yang merupakan notabene merupakan BUMN kepunyaan bangsa.

“Kita juga berharap Presiden Jokowi turun tangan melakukan konsolidasi memanggil tiga menteri ini untul menyelamatkan semen Indonesia. Pelaku industri semen lokal sudah berteriak melalui Asosiasi Semen Indonesia maka silakan saja Pak Jokowi memanggil saja Asosisasi agar lebih valid datanya dari mereka,”ujar Andre.(siaran pers: andrerosiade)