Sitinjau Lauik Menunggu Lekat Tangan kita

oleh -211 views
Ruas Sitinjau Lauil... kondisi horor kala musim. penghujan. (dok)

Oleh: Ilhamsyah Mirman

Founder Ranah Rantau circle (RRc)

..Sitinjau lauik…longsor lagi…macet lagi…berulang-ulang…solusinya cuman alat berat…Sumbar oh sumbar…orang pintarnya pada kemana….

CUITAN pilu salah seorang warga di WAG KATUA SMILE Alumni Teknik Unand sangat menghentak dan sungguh mengena dengan gambaran terkini suasana di jalur Sitinjau Lauik.

Jalan yang terletak di kecamatan Lubuk Kilangan, kota Padang ini belakangan kembali longsor di sejumlah lokasi. Praktis selama musim penghujan mengancam nyawa yang menimbulkan rasa was-was pengguna jalan.

Meski upaya perbaikan dilakukan, namun sifatnya darurat yang tidak cukup memadai. Selain bagaimana memindahkan material longsoran dan memberi informasi terkini mengantisipasi bencana susulan.

Melihat skala serta ancaman yang nyata, ‘horor’ Sitinjau Lauik tidak bisa dipandang ringan. Saat normal dan cuaca bersahabat saja banyak memakan korban, terlebih di musim penghujan. Truk terbalik, tabrakan beruntun, rem blong dan aneka kejadian menyedihkan dengan korban luka maupun nyawa manusia menjadi menu jalan ter’ekstrim’ versi warganet. Konten jalan Sitinjau Lauik sangat viral didunia maya.

Tersebab trase jalan yang memang terjal ditikungan tajam panorama satu, jadi lokus utama. Dalam skala dan ancaman kurang lebih sama, juga tersebar dua titik lain. Ada pula jalan mendaki yang panjang sehingga truk atau bus melenguh saat menanjak, namun sebaliknya, harus stand by rem dengan kondisi prima, saat menurun.

‘Sudah sejak kito kuliah dulu, lapisan pekerasan terus menebal untuk perbaikan jalan’, ungkap Zul Effendi, pelintas jalan yang berdinas dibagian konstruksi Mabes Polri. ‘Termasuk pelebaran yang kurang memperhatikan pengaman alami, padahal dulu berjajar asam dan sederetan pohon besar yang uratnya menggenggam tanah agar tidak longsor’, lanjut alumni KATUA yang banyak terlibat dalam pembangunan tower ikonik Polda Metro Jaya.

Menurut Dosen FT Unand, Mas Mera, dua masalah utama yang harus diatasi, trase jalan terlalu terjal serta ancaman bahaya longsor sampai tebing stabil. Sekalipun diizinkan tambahan dinding penahan membuat beban singguluang batu. Makin hari kian berat sehingga bisa-bisa massa tanah dan dinding penahan hingga badan jalan itu sendiri jatuah badarun. Solusinya dengan menjadikan Sitinjau Lauik hanya untuk kendaraan ringan. Truk dan bus besar harus melalui jalan lain.

Perbincangan didunia maya yang terpantau intens, tidak bisa dilepaskan dari upaya pelbagai pihak untuk terus menggemakan agar kepedulian para pihak tergugah. Pada gilirannya tentu jawaban tuntas diharapkan.

Persoalan kewenangan antar lembaga yang mencuat hingga terekspose di muka publik hendaknya tidak menjadi alasan. Terlalu mahal harga nyawa manusia.

Solusi alternatif sudah berseliweran dan ditawarkan banyak pihak diberbagai kesempatan. Termasuk ide jenial Walikota Payakumbuh Reza Pahlevi, membuka jalur alternatif melalui Asam pulau, Padangpariaman tembus ke Sumpur, Tanah Datar.

Selain itu usulan ganti trase dengan membuat jembatan dari Lubuk Paraku sampai level tanjakan 1,5% agar aman bagi bus atau truk. Memang konsekuensinya lebih satu kilometer panjang, dengan bentuk lurus atau bisa melingkar bukit.

Kedua alternatif ini, bersanding dengan usulan meneruskan pembangunan jalan Lubuk Minturun-Panyalaian, maupun jalur tembus melewati kampus Unand Limau Manis. Kesemuanya berpulang pada pengambil kebijakan dan ketersediaan dana.

Namun perlu diingat benar, jalur Sitinjau Lauik merupakan urat nadi perekonomian dan akses utama transportasi Sumatera Barat. Tidak ada alasan berlena.

Kepedulian berbagai pihak dan usulan non teknis untuk mendapat solusi cespleng, pernah pula dilakukan aktivis kebencanaan mencoba mencari celah. Meski belum mendapat simpulan namun pertemuan yang diinisiasi pegiat Revanche ‘Kabuik’ Jefrinal menunjukkan ada permasalahan genting.

Dari Jakarta, suara keprihatinan senada juga disuarakan. Disela menghadiri Pengukuhun DPP, Ketua Gebu Minang Sumbar, Fadly Amran mengajak perantau yang tergabung dalam pengurus Pusat membersamai pembangunan di kampung halaman, melobby pemerintah pusat memprioritaskan pembangunan di Sumatera Barat.

Dalam perjalanan darat bersama sejumlah pengurus DPW, bus NPM yang ditumpangi Fadly terpaksa melalui Padangpanjang dan memutar danau Singkarak menghindari macet dan hal-hal yang tak diinginkan di Sitinjau Lauik.

Pada intinya telah tampak semangat bersama segenap komponen masyarakat melihat kepiluan di teras ranah Minang ini. Pintu masuk utama rumah gadang tentu harus indah, nyaman dan ngangeni.

Universitas Andalas yang memiliki Pusat Studi Transportasi sangat diharapkan mengambil inisiatif menggalang potensi yang perlu digerakkan. Dengan kekuatan kajian keilmuan keteknik sipilan yang mumpuni ditambah jejaring ke pusat pengambil kebijakan transportasi tingkat nasional diyakini, Yosritzal dan kawan-kawan Pustrans yang paling tepat menjadi leading sector.

‘Kami siap membantu tenaga, akses dan segala sumber daya yang dibutuhkan’, ujar Ketua KATUA Teknik Sipil, Ilhamsyah Mirman. Termasuk mendorong anggota DPR RI Komisi V, khususnya dapil Sumbar. ‘Karena dukungan jalur legislatif parlemen bisa efektif menerobos kelambanan birokrasi’, lanjut mantan Tenaga Ahli Anggota DPR RI tersebut.

Cukup sudah wacana, eksekusi sekecil apapun amat dibutuhkan. Kehijauan dan resik hutan Raya Bung Hatta harusnya sumber kebahagiaan bagi masyarakat. Jangan sampai proklamator menangis dikubur kala mendengar berita anak cucu mati sia-sia terhimpit longsor, lagi dan lagi, entah sampai kapan.

Cukup hendaknya pelbagai sinyalemen ini bagi para pemangku kepentingan dimanapun dan diberbagai tingkatan, untuk mengambil langkah konkrit. Yakinlah, publik pasti mendukung, karena menyangkut nyawa kita semua. Tentu dengan style berpikir out of the box.

Karena dikreativitas dan kekuatan jejaring ranah rantau jadi modal utama Sumatera Barat bangkit membangun. Disitu kebersamaan jadi kekuatan, tentu Kepala Daerah, dalam hal ini Gubernur sebagai Panglima.(analisa)