Suara Gen Z Menjadi Incaran Politikus

oleh -1,062 views
oleh
1,062 views
Ananda Hidayah Safitri dari Ilmu Komunikasi FISIP UNAND. (dok)

SETIAP menjelang tahun politik, generasi muda atau yang biasa kita sebut “Gen Z” selalu menjadi incaran di dunia politik.

Merebut perhatian generasi muda salah satunya dilakukan dengan menyandingkan para calon presiden dengan wakil presiden pada periode tersebut.

Bagaimana tidak berebut, dari total penduduk sebanyak 270,2 juta jiwa berdasarkan Sensus Penduduk 2020, proporsi Generasi Z mencapai 27,94 persen. Mereka tentunya akan menjadi incaran pemilu 2024 mendatang, terutama pada Gen Z yang masuk golongan dalam pemilihan pemuda dan perdana ikut mencoblos, tentunya itu akan sangat menguntungkan politikus.

Keberadaan Gen Z di era sekarang ini sangat penting untuk ditelaah dan akan menimbulkan banyak manfaat. Menurut riset yang dilakukan UMN Consulting dengan melibatkan 802 Gen-Z dari Jabodetabek Gen Z sangat mudah diterpa informasi politik di sosial media, seperti yang kita ketahui Gen Z tidak “loyal” hanya pada satu media sosial, pasti mereka memiliki banyak akun di sosial media, oleh karna itu informasi mengenai politik sangat mudah mereka dapatkan.

Gen Z memiliki pandangan pemimpin yang ideal dan menjunjung tinggi Hak Asasi Manusia (HAM), dan tentunya melek akan digital, sangat jarang di era sekarang ini Gen Z tidak paham akan kemajuan digital.

Terakhir, Gen Z memberi redflag terhadap politisi yang kerap memberikan janji manis serta menggunakan jabatan semena-mena. 

Generasi Z dituntut berpartisipasi dan tidak apolitis, apalagi apatis. Berbagai pendekatan dilakukan oleh politikus paruh baya untuk menunjukkan bahwa mereka tidak gagap teknologi, tidak ketinggalan tren di media sosial, mengerti aspirasi orang muda, dan sebagainya.

Capres 2024 Ganjar Pranowo pun menyebut “akan membidik generasi milenial dan Gen Z sebagai lumbung suara”.

Menurut Ganjar, Gen Z ini saat ini tidak selalu mengidentikkan diri dengan kegiatan politik, generasi Z akan didekati ruang ekspresi seperti karya. Ganjar mengatakan jika di 2024 ini tantangannya adalah bagaimana cara menggaet generasi milenial dan Gen Z, dengan menyediakan ruang baca, ekspresi, penyanyi, pelukis, persahabatan, nongkrong, nge game, kita harus hadir di sana, di hal hal yang mereka sukai. 

Tetapi beberapa persen dari Gen Z tertarik pada politik namun pemahaman akan politik dirasakan masih cukup minim. Oleh karena itu banyak Gen Z berupaya melakukan pencarian mandiri atau self-learning di media sosial yang sekarang sudah cukup banyak tersebar mengenai politik. 

Jika memang Capres pada 2024 ingin mencoba menggaet perhatian dari Gen Z, apa yang harus mereka lakukan? Konten apa yang disukai oleh Gen Z? Media sosial apa yang efektif untuk menampilkan narasi mereka agar Gen Z tertarik? dan tentunya strategi atau pendekatan yang tepat untuk menyasar Gen Z?

Berdasarkan data dari Sprout Social Index, Gen-Z lebih menyukai konten dalam format video dan gambar. Konten berupa teks tetap memiliki tempat, tapi sajiannya harus dalam visual serta tidak panjang.

Sedangkan terkait platform media sosial, tentunya Gen Z memiliki banyak akun di media sosial. Tapi platform utama di era sekarang ini ialah Instagram, untuk membangun konten atau foto yang sangat menarik di mata Gen Z. Tiktok, tentunya untuk konten penghibur berdurasi pendek, TikTok sekarang sudah sangat viral di era Gen Z.

YouTube, untuk membangun percakapan atau podcast sehingga bisa membangun branding yang baik di mata Gen Z. Terakhir ialah Twitter, untuk percakapan seperti teks yang tak terlalu panjang, kejadian di platform Twitter ini akan sangat mudah viral.

Keempat platform digital tersebut adalah platform secara garis besar digunakan oleh Gen Z pada era sekarang ini.

Jika ingin menyasar Gen Z, partai politik tentunya mendekatkan diri dengan gaya modern nomaden. Seperti yang sudah dikatakan tadi Gen Z tidak pernah “loyal” akan satu media sosial, Gen Z pasti akan mengikuti trend atau perkembangan zaman. 

Di era sekarang ini banyak selebgram atau TikTokers yang tersebar dan memiliki banyak followers dan endors. Dengan adanya platform digital yang sangat erat dengan Gen Z pengaruh dari selebram dan TikTokers ini terasa nyata.

Gen Z sangat memperhatikan pengaruh sosial media dan cenderung lebih mempercayai rekomendasi atau dukungan dari orang – orang yang mereka anggap panutan atau idola mereka. Dengan hal ini, politisi dapat memanfaatkan pengaruh sosial media untuk mendapatkan perhatian dari Gen Z, semisal dengan membangun kerja sama dengan selebriti, influencer, atau aktor aktor terkenal lokal maupun nasional. 

Selain itu jika ingin menarik perhatian Gen Z jangan lupa juga dengan penggunaan bahasa dan gaya yang sesuai dengan mereka. Banyak bahasa yang digunakan oleh Gen Z yang generasi sebelum nya tidak mengerti. Oleh karna itu penting jika ingin menarik perhatian Gen Z gunakan bahasa yang relevan dengan mereka. Gen Z cenderung menanggapi pesan yang disampaikan dengan bahasa dan gaya yang lebih santai, tidak terlalu formal, dan relevan dengan kehidupan mereka.

Generasi milenial dan Gen Z dianggap berperan penting bagi hasil pemilu. Selain jumlahnya yang besar, mereka juga dikenal aktif di sosial media dan memiliki kepekaan terhadap isu-isu sosial dan politik. Pemilih pemula ialah mereka yang tidak bisa menyalurkan suaranya di pemilihan 5 tahun sebelumnya.

Berdasarkan data KPU pemilih pemula yang berasal dari generasi milenial dan Gen Z di 2024 mendatang tergolong tinggi, sehingga peran mereka sangat penting bagi masa depan Indonesia.

Namun apakah generasi yang dikenal labil ini bisa menggunakan suaranya dalam pemilu 2024 ini secara bijak dan benar? Tentunya mereka akan mencari capres atau cawapres favorit mereka melalui media sosial.(analisa)

Oleh: Ananda Hidayah Safitri

Mahasiswa Ilmu Komunikasi FISIP Unand