Susu Kambing Aro Kandikir Bakal Gunakan Teknologi Pasteurisasi Binaan UNAND

oleh -266 views
oleh
266 views
Inilah Rangga pelaku UMKM yang mendapatkan Program Matching Fund Universitas Andalas, di branch ternak kambingnya di Agam. (faish)

Bukittinggi — Tidak lama lagi susu kambing di CV Rokir Farm bakal diproduksi dengan teknologi pasteurisasi.

Usaha peternakan yang beralamat di Jorong Aro Kandikir, Nagari Gadut, Kabupaten Agam ini mengikuti Program Matching Fund Universitas Andalas (UNAND).

Direktur CV Rokir Farm, Rangga Harkaffi menjelaskan nantinya susu kambing akan diproduksi berupa susu pasteurisasi dengan 4 varian yaitu murni, strawberi, cokelat dan jahe.

“Arah produksi berbeda dengan sebelumnya yang hanya memasarkan varian murni non pasteuriasi, kemasan juga berbeda, sebelumnya menggunakan botol plastik sekarang menggunakan sachet plastik dan dikemas secara aseptik, dipasarkan di sekitar area Bukittinggi khususnya sekolah, rumah sakit, masjid dan pusat keramaian,” sebut Rangga Rabu 30/11-2022 via chat whatsapp.

Mesin yang digunakan untuk produksi tersebut, kata Rangga, sebagiannya sudah sampai di lokasi peternakan. Ke depan proses produksi akan menggunakan mesin pasteurisasi yang berfungsi untuk mengolah susu mentah menjadi susu matang yang bebas bakteri patogen.

“Cara kerjanya dengan pemanasan suhu 65-72 derajat selama 20-30 menit,” ujarnya.

Selain itu kata Rangga juga menggunakan mesin homogenizer yang berfungsi untuk mengaduk dan menyatukan kandungan-kandungan yang ada di dalam susu sehingga susu memiliki tekstur halus dan gumpalan lemaknya menyatu.

Di lokasi peternakan, sambungnya, juga sudah ada pompa transfer yang berfungsi untuk memindahkan cairan susu secara aseptik. Juga ada tanki storage sebagai wadah penyimpanan sementara sebelum menuju mesin packing. Terakhir, mesin packing berfungsi untuk mengemas susu ke dalam kemasan plastik nylon LLDPE.

Insya Allah dalam minggu depan kami mulai produksi. Kawan-kawan peternak sudah mulai mengumpulkan susu sebagai bahan baku, dan mereka sangat bersemangat,” tegasnya.

Mesin pasteurisasi, homogenizer dan tangki storage tegas Rangga menyebutkan didapat dari bantuan Dikti melalui program Matching Fund UNAND.

Rangga menilai program Matching Fund UNAND ini sangat tepat sasaran, karena menjadi solusi atas kebutuhan pelaku UMKM susu murni.

“Apalagi proses seleksinya sangat ketat sehingga benar-benar menyaring UMKM yang memiliki niat untuk berkembang. Seringkali kejadian, bantuan itu tidak tepat sasaran, akhirnya mangkrak. Namun, pada bantuan matching fund Universitas Andalas ini, UMKM juga harus menyediakan aset dan SDM yang siap untuk terlibat dalam kegiatan ini. Semoga ke depannya keterkaitan dengan pihak universitas akan selalu terjalin,” harapnya.

Prof Ratni Prima Lita selaku Ketua Tim Pengusul Program Matching Fund menyebut pentingnya penerapan rencana bisnis UMKM Susu Kambing melalui penggunaan teknologi pasteurisasi dan kemasan aseptik yang dipercaya dapat meningkatkan pemasaran digital dan berkelanjutan.

Kata Prof Ratni, proses produksi susu kambing merupakan aspek penting bagi konsumen untuk dapat dikonsumsi secara baik dan sehat. Kualitas susu juga dipengaruhi oleh beberapa faktor mulai dari segi pakan, bangsa kambing, waktu laktasi, prosedur pemerahan, dan tempat pengolahan.

“Program ini mulai diterapkan pada CV Rokir Farm di Kabupaten Agam sebagai mitra binaan. Di sana dikenalkan pengembangan produksi susu kambing dengan penerapan teknologi pasteurisasi dan varian buah lokal, termasuk dengan penerapan standarisasi produk, Pendaftaran Hak Kekayaan Intelektual (HKI) merek dan paten sederhana,” jelas Prof Ratni.

Penerima manfaat program ini, sambung Prof Ratni, selain mitra CV Rokir Farm juga peternak dan produsen susu segar di sekitaran Kota Bukittinggi dan Kabupaten Agam.

Prof Ratni menyorot perlunya penguatan komunitas peternak atau produsen susu kambing di Sumatera Barat khususnya Kota Bukittinggi dan Kabupaten Agam.

Karenanya, tim yang terlibat dalam kegiatan ini antara lain, Dr Sri Melia selaku pakar bioteknologi susu, Dr Indri Juliyarsi selaku pakar prosesing susu, Devi Yulia Rahmi selaku pakar manajemen stratejik dan kewirausahaan, serta Fatma Poni Mardiah selaku pakar manajemen operasi dan produksi.

“Semoga program ini dapat memperkuat komersialisasi pelaku UMKM yang bergerak di sektor usaha susu murni,” harap Prof Ratni.(faish)