Swap COVID-19 Gratis

oleh -167 views
Pemeriksaan Swab Gratis perlu membumi untuk putus penyebaran Cobod-19. (foto: dok)

Oleh : Elfindri, Dir SDGs Unand

KALANGAN ekonom coba lihat hubungan antara jumlah pengecekan kasus covid-19 per 100.000 penduduk dan temuan jumlah kasus. Hasil scatter diagram antar negara menunjukan hubungan yang positive.

Bahkan semakin banyak upaya pemeriksaan kasus semakin bagus. Semakin banyak temuan semakin mudah mengurai dan menemukan pemutusan kasus covid.

Persoalannya pilihannya apa? Rapid test atau pemeriksaan lendir hidung atau kerongkongan kita kenal dengan swap.

Asumsikan pemeriksaan lendir hidung dan kerongkongan jauh lebih digunakan. Dibanding rapid test kewat pemeriksaan darah.

Upaya pemeriksaan memang memerlukan alat labor, dan tenaga. Ini akan terbatas kapasitasnya. Syukur daerah di mana terdapat labor di lokasinya. Bisa hasilnya 3 hari keluar, periksa, serahkan dan lusa bisa dikeluarkan hasilnya.

Lab-lab memang terbatas.
Tapi juga biayanya masih mahal karena ketergantungan alat kimia yang diimpor.

Maka hitung-hitung biaya yang dibebankan ke masyarakat bisa pada rentang 1.5 juta rupiah lebih per pemeriksaan. Jumlah mahal.

Sebuah nilai yang siapa akan membayar, menjadi rumit pada masa pandemi ini.

Karena penyediaan layanan bagian dari barang publik, maka mesti ada subsidi untuk menyediakannya.

Apakah negara merasa sanggup?
Jika tidak memang sebagian akan ditanggung masyarakat.

Tapi bisa juga seperti yang dikembangkan oleh Pemprov Sumatra Barat. BUMN berlomba untuk menggunakan kesempatan ini sebagai ajang promosi dua bank BNI dan Bank Nagari menyediakan pemeriksaan gratis.

Ini sebuah upaya yang baik.
Semakin banyak yang mau bantu menyediakan dana, maka semakin cepat upaya untuk.mengkover siapa yang akan di swap.

Agar swap efektif, maka saya sarankan agar pemeriksaan dipriotritaskan pada kelompok beresiko tinggi.

Pedagang pasar, seluruh tenaga kesehatan, dan keluarga kena terinfeksi, sopir, dan layanan publik lainnya.

Semoga upaya pemeriksaan kasus tidak menyebabkan layanan tidak jalan. Mahasiwa, rakyat miskin awak media dan wartawan bisa diundang supaya mereka juga dapat perhatian pada masa pandemi ini.(analisa)