Tabihita Project Indonesia Berbagi Ceria dengan Anak-Anak Desa Matobe Mentawai

oleh -359 views
oleh
359 views
Delapan Pemuda dari Tabihita Project Indonesia ceria bersama dengan anak-anak Desa Matobe. (dok/tpi)

Oleh: Nindy Natasya N

Mahasiswa S1 Jurusan Biologi Universitas Andalas (Ketua Yayasan Tabihita Project Indonesia PM BAKTI NUSA 12, Regional Padang)

“Jangan bosan untuk berbuat baik, karena kebaikan itu akan kembali kepada dirimu” by Tabihita Project Indonesia

 

DELAPAN pemuda dari Yayasan Tabihita Project Indonesia menginjakkan kaki di kepulauan Mentawai dalam rangka survei kegiatan Zilenial Beraksi. Kedelapan pemuda itu berangkat Jum’at 17/3-2023 dari  pelabuhan Teluk Bayur dengan menggunakan kapal perintis.

Waktu berlayar 12 jam, Delapan pemuda tergabung pada program Zilenial Beraksi merupakan kegiatan unggulan Tabihita  Project Indonesia dari Departemen Pengabdian Masyarakat.

Zilenial Beraksi ini merangkul generasi Z dan Milenial yang memiliki keresahan yang sama mengenai pendidikan di daerah pelosok Indonesia untuk berkontribusi dalam kegiatan Pengabdian Masyarakat khsusunya di bidang Pendidikan.

Sabtu 18/3-2023, tim Tabihita sampai di pelabuhan Tua Peijat. “Kami melanjutkan perjalanan ke Desa Matobe dengan waktu tempuh 1 jam perjalanan menggunakan mobil BUMDES Matobe.

Sesampainya di Matobe kami sudah disambut masyarakat lokal Mentawai dan mengizinkan kami untuk tinggal di rumahnya. Selesai melepas penat satu persatu anak-anak mulai berdatangan ke tempat penginapan kami.

Selama mengisi kekosongan di waktu weekend, kami berinisiatif untuk mengumpulkan anak-anak di desa Matobe untuk mengikuti kegiatan dongeng. Tanpa disangka anak-anak sangat antusias dalam mengikuti kegiatan ini, dimulai dengan tes semangat, game lampu merah, akustik musik, dilanjutkan dengan dongeng tangkuban perahu dan ternyata anak-anak tidak merasa bosan dengan kegiatan kami dan mereka meminta dongeng satu kali lagi akhinya kami memenuhi permintaan mereka dengan menutup kegiatan dengan dongeng malin kundang.

Yayasan Tabihita Project Indonesia peringatan Hari Desa Asri Nusantara di Matobe Kepulauan Mentawai. (dok/tpi)

Pada Senin 20/3-2023 dalam rangka memperingati Hari Desa Asri Nusantara kami bersama perangkat Desa Matobe melakukan kegiatan menanam bibit kelapa di tepi pantai, setelah itu dilanjutkan dengan diskusi mengenai kegiatan Zilenial Beraksi dimulai dari mengulik permasalahan desa, potensi desa, dan juga pengembangan ekonomi kreatif yang sudah dikembangkan oleh ibu-ibu PKK desa Matobe dan kerennya beberapa hasil ekonomi diantaranya abon ikan, jahe merah instan telah mendapatkan BPOM dan pemasaran sudah sampai ke Christine Hakim Kota Padang.

Kegiatan Survei tidak hanya sampai tingkat kepala desa, kami juga langsung turun ke sekolah SDN 08 Matobe dan SDN 19 Matobe. Beberapa informasi yang kami dapatkan bahwa fasilitas yang ada di sekolah jauh dari yang diharapkan, belum adanya ruang majelis guru sehingga perpustakaan dialih fungsikan sekaligus menjadi kantor majelis guru, WC dan kamar mandi dengan keadaan yang sangat sederhana. Salah satu guru SDN 08 yang kami wawancarai yaitu bapak Jepalino menjelaskan bahwa kurikulum 2013 tidak cocok untuk diterapkan di mentawai karena pembelajaran berpusat pada siswa sedangkan di Desa Matobe sendiri anak-anaknya sulit untuk beradaptasi dengan pembelajaran dikarenakan keterbatasan jaringan internet dan informasi sehingga siswa masih bergantung dengan pembelajaran yang didapatkan dari penjelasan para guru.

Masyarakat Desa Matobe hidup rukun dan saling menghormati perbedaan agama di antara mereka. Mayoritas masyarakat Matobe beragama kristen sehingga jika dilihat dari masjid sudah sangat tua dan jamaah sangat sepi, bahkan tidak ada sama sekali jamaah untuk sholat berjamaah, jangankan sholat, adzan saja sangat jarang dan hampir tidak ada berkumandang di desa Matobe berbeda dengan kegiatan di gereja yang cukup aktif dan rutin dilakukan sekali dalam seminggu.

Ketebatasan guru mengaji mengakibatkan anak-anak yang beragama Islam belajar mengaji di sebuah rumah nenek yang ada di desa tersebut, tetapi keterbatasan itu tidak mengurangi semangat mereka.

Setelah tiga hari berbaur dengan anak-anak di desa Matobe kami kembali ke Tua Peijat untuk melanjutkan survey daerah selanjutnya, ternyata selama tiga hari bersama anak-anak merasa dekat dan nyaman bermain dengan kami, sehingga tidak banyak dari mereka memberikan surat perpisahan dan kenang-kenangan berupa gelang khas mentawai, sungguh manis cara mereka dalam mengungkapkan perasaannya, tidak sungkan pula mereka menyampaikan pesan.

Ceria selalu tak terasa tiga hari sudah, Zelinial Beraksi di Matobe Kepulauan Mentawai. (dok/pji)

“jangan lupa kembali ke Matobe ya kak” dan perpisahan saat itu pecah dengan tangisan mereka. Jika diingat Epic moment mulai dari perjalanan di atas kapal yang cukup lama, mengenal masyarakat dan keceriaan anak-anak Matobe, pantai yang begitu asri, serta ditutup dengan berbuka dan sahur pertama kali di atas kapal.

Terimakasih Mentawai walaupun singkat tapi bermakna. (analisa)