TERENYUH, NA Belikan Tiket untuk Penumpang Ketinggalan Pesawat di BIM

oleh -300 views
Nasrul Abit, Wagub Sumbar terenyuh melihat seorang ibu menangis di ruang terminal keberangkatan BIM karena ketinggalan pesawat, Jumat 14/2 (foto: dok)

Padang,—Pemandangan mengharukan terjadi di Terminal Keberangkatan Bandara Interasional Minangkabau (BIM) Sumbar.

Ketika semua orang cuman bisa menggeleng dan melangkah meneruskan jalannya ke gate mereka masing-masing,  walau melihat seorang ibu yang resah bersama anaknya ketinggalan penerbangan.

Rusna Yosi nama ibu asal Batusangkar Tanah Datar, tersedu menangis di sebuh sudut terminal, tiket penerbangannya hangus.

Tapi tidak seperti kebanyakan yang lain di BIM, Wagub Sumbar Nasrul Abit langsung mengampiri dan menanyakan mengapa Rusna menangis.

“Ado apo ibu? Baa ko manangih? (Ada apa, kenapa.menangis),”tanya Nasrul Abit dengan suara bersahabat.

Rasa peduli Nasrul Abit yang membuat Wagub mendatangi Rusna Yossi (46) yang sedang menanggis tersedu-sedu bersama anak perempuannya dengan troli barang yang penuh.

Melihat suara lembut bertanya, Rusna pun menjelaskan mengapa dia menangis di terminal bandara. Berawal keterlambatan jemputan dari pihak travel untuk mengantarkan Rusna ke BIM, sesampai di Bandara ternyata pesawat yang mengantarkannya ke Jakarta sudah berangkat.

“Saya sedih bukan hanya itu saja, selain tiketnya hangus, ada beban berat yang menyesakan dadanya. Karena kebetulan anaknya yang tamatan SMK, melamar pekerjaan di PT. Megacentral Jakarta dipanggil untuk interview,”ujar Rusna terisak kepada Nasrul Abit.

Mendengar cerita Rusna ini, spontan peduli mantan Bupati Pessel dua periode Wagub Nasrul Abit membantu tiket ibu dan anaknya yang bernama Ramah Danivo (20) untuk berangkat ke Jakarta, kelebihan bagasi barang, semuanya ditanggung Nasrul Abit.

“Terimakasi kasih pak Wagub, yang spontan telah membantu hingga bisa berangkat ke Jakarta,”ujar Rusna ternyata pernah dulu pernah menjadi PNS tetapi sudah diberhentikan dikarenakan tidak masuk selama tujuh bulan.

Alasanya tidak masuk kerja selama tujuh bulan, waktu itu keluarganya sangat butuh uang untuk membiayai sekolah anaknya. Namun karena tidak dapat pinjaman dari Bank kantor di mana ia bekerja, makanya ia memutuskan untuk mencari uang dengan menyapu dan kuli asal dapat uang untuk biaya sekolahnya.

“Ibu yang sabar ya, semua ini pasti ada hikmahnya, mudah-mudahan anak ibu bisa diterima di Jakarta,” hibur Nasrul Abit. (*rls/eko)