Terimakasih Rumah Sakit Unand

oleh -280 views
Prof Elfindri (foto: dok)

Oleh: Elfindri, Direktur SDGs Unand

SAYA tidak membayangkan harus menginap di rumah sakit Unand selama 3 minggu karena covid-19.

Kenapa begitu?. Berlatar belakang pendidikan jurusan ilmu ekonomi, kemudian dapat pendidikan di Flinders University South Australia.

Lebih berbekas lagi salah seorang pembimbing kami adalah Dr Alan Steward, tamatan London School of Tropical and Hygienic, sebuah tempat pendidikan untuk primary health care terbaik di Eropa. Sebandinglah fengan Johns Hopkins University di USA.

Separo waktu kami di rumah sakit flinders pada bagian primary health care, yang kemudian menulis disertasi tentang program kesehatan dan gizi di Sumatra Barat.

Selama di primary health care, yang terintegrasi dengan rumah sakit oendidikan, mengenal tentang pelayanan dan manajemen rumah sakit, bagaimana proses pembelajaran di rumah sakit. Dua pembimbing lain adalah ekonom dan demografer.

Tahun 1995 penulis pulang dan aktif mengajar. Dan semenjak Prof Fachri Ahmad dan dilanjutkan prof Marlis Rahman, penulis diyugaskan sebagai ketua perencanaan Unand.

Menariknya sekitar tahun 2001, penulis pernah ikut rapat di lantai 4.5 gedung Rektorat Unand, bersama Prof Fasli Jalal, prof Musliar Kasim dan beberapa anggota oerencanaan lainnya. Rapat ketika itu membahas rencana rumah sakit pendidikan yang skema pembiayaannya waktu itu berasal dari Islamic Development Bank.

Syukurlah dengan berjalannya waktu perencanaan semakin dimatangkan, ketika Prof Werry D Taifur menjadi rektor proses pembangunan rumah sakit pendidikan dan gedung fakultas kedokteran selesai. Tahun 2017 diresmikan sebagai rumah sakit pendidikan.

Rasa syukur karena keberadaan rumah sakit ini dapat semakin dimantapkan, apalagi skema pembiayaan rumah sakit disertai pembiayaanya dengan persiapan tenaga kesehatan dokter. Praktis dokter spesialis berkembang, dan sehari hari direkrut tenaga keperawaran, kebidanan dan lainnya. Yang membuat rumah sakit mulai memberikan fungsinya.

Kami merasa bersyukur juga karena kekuatan utama rumah sakit ada pada kualitas dan dedikasi dokter dan perawat serta seluruh staf rumah sakit, satpam yang bagus integritasnya, sampai juga cleaning service yang berdedikasi.

Ditahun 2017 penulis pernah menulis mengenai rumah sakit Mahkota di Malacca Malaysia. Jumlah orang Indonesia yang berobat hitung punya hitung pengeluarannya bisa sampai dua Trilun Rupiah per tabun untuk seluruh layanan, transpot, hotel dan layanan rumah sakit.

Kekuatan rumah sakit Mahkota adalah layanan terintegrasi, dan kepastian waktu mulai registrasi sampai selesai.

Kompetensi dokternya bisa jadi tidak banyak berbeda jika dibandingkan dengan dokter dan perawat di Unand.

Oleh karenanya masa depan rumah sakit Unand ini mesti akan menuju sebuah rumah sakit yang memiliki layanan yang lebih khas dan diperlukan oleh masyarakat sakitar, setidaknya yang berasal dari Sumatra Barat, Bengkulu, Jambi dan Sumatra Utara bagian Selatan.

Jika flinders medical center lebih terkenal dengan face surgery dan primary health care, rumah sakit Mahkota lebih pada kombinasi pemeriksaan terintegrasi dan berbelanja restoran rumah sakitnya, maka rumah sakit unand mesti memilih pada bagian apa yang menjadikan rumah sakit ini akan lebih unggul dibandingkan dengan rumah sakit lainnya yang ada.

Sehingga laboratorium dan pengembangan SDM Bisa difokuskan lebih untuk menjadi unggul disamping tetap untuk mengembangkan riset kedokteran untuk berbagai bidang lainnya sebagai pembelajaran.

Pengembangan pengobatan dengan memakai produk ramuan obat tradisional akan menjanjikan tentunya. Sehingga pengembangan layanan rumah sakit terintegrasi dengan pengembangan riset kefarmasian.

Modal dasar Rumah Sakit Unand sudah ada tinggal fokus lima sampai sepuluh tahun mendatang.

Untuk hal lain promosi, sistem transportasi, dan fasilitas layanan yg menarik seperti cafe, tempat nginap bisa dikembangkan.

Semoga suatu saat rumah sakit Unand akan unggul.

Siapa sangka ternyata rahasia sang Pencipta untuk jadikan rumah sakit, kami diberi rasa mencicipinya.

Terimakasih semua rektor dan tentunya pada dokter dan perawat atas dedikasinya.

Kami puas sekali selama 3 minggu atas layananya yang tanpa pamrih.(analisa)