Ternyata Taslim itu..

oleh -906 views
Donni Gucci (foto : dok)

Oleh : Donny Guci

BAGI kami yang sehari-hari berjibaku dengan terik matahari dan peluh keringat, politik ibarat seperti acara 17 Agustusan yang diadakan pada waktu tertentu. Kalau politik sekali lima tahun, sedangkan 17-an datang sekali setahun.

Ya, begitu sederhana kami memandang politik. Hanya sebatas pemilihan, apakah itu kepala daerah atau dewan. Pendapat itu muncul karena yang kami rakyat badarai rasakan ya itu, hanya diperhatikan menjelang pemilihan.

Kalau ada kandidat datang berkunjung atau mengajak berkumpul, kami senang-senang saja. Karena makan gratis, dapat baju atau atribut lain. Lumayan kan, baju bisa dipakai untuk ke sawah atau berkuli.

Saat pertemuan kami menjadi pendengar yang baik, hanya mendengarkan. Hampir sepanjang pertemuan hanya menganggukkan kepala dan tersenyum. Kalaupun ada diantara kami ngomong lebih banyak basa basi.

Tapi itu pemikiran saya dulu. Sejak 2014, saya mulai sedikit mengerti politik itu apa. Tidak sekedar memajang spanduk, atau sorak sorai dukung kandidat tertentu.

Mata dan fikiran saya mulai terbuka saat diajak teman untuk bertemu Taslim. Awalnya berfikir itu seperti yang lain, mendengar kata-kata manis dari kandidat. Tapi ternyata jauh dari dugaan awal saya, sepanjang pertemuan tidak ada pembicaraan tentang dukungan jelang Pileg.

Kita berdiskusi tentang apa yang harus kita perbuat untuk daerah, dengan peran kita masing-masing. Dan saya pertama kali merasa dianggap ada, karena diminta berpendapat.

Karena jarang berbicara didepan umum, saya jujur sulit mengatakan sesuatu walau sudah ada dipikiran. Apalagi saat itu Taslim anggota DPR RI, sedangkan saya hanya pekerja kasar.

Apa yang saya sampaikan ditanggapi dengan seksama oleh Taslim, padahal saya lebih ke Curhat tentang nasib petani. Dari diskusi itu lahirlah ketertarikan saya tentang apa itu politik, dan sisi sisi menarik nya.

Ternyata politik itu tentang bagaimana cara kita mampu mempengaruhi kebijakan. Apakah itu merebut kekuasaan atau menjadi pengawas di DPR. Cara paling pas untuk memperbaiki kesalahan penguasa adalah di dunia politik, karena penguasa dapat jabatan karena perhelatan politik.

Dan saya baru sadar, ternyata semua orang bisa ikut serta dan punya pengaruh besar. Satu suara seperti saya sama nilainya dengan seorang presiden dalam pemilihan. Sama sama satu suara.

Dan saya mulai merasa harus menghargai diri sendiri. Pilihan politik saya tidak bisa dihargai dengan 100 ribu atau hanya sekedar sehelai pakaian, atau dibawa pergi jalan-jalan.

Dari diskusi ringan tapi mendalam saya dengan Taslim, saya diberi pemahaman kalau sesuatu itu harus diperjuangkan. Kalau ingin petani diperjuangkan nasibnya, maka pilihlah orang yang bisa mewakili dan peduli dengan petani. Jangan hanya nasib petani dihargai dengan sehelai baju. Setelah terpilih dia hilang 4 tahun, dan datang lagi pemilihan berikutnya.

Kita sering berkeluh kesah tentang kurang perhatian pemerintah, tapi sebenarnya kita yang tidak peduli dengan nasib kita sendiri. Saat pemilihan kita punya hak 100 persen menentukan nasib kita. Dan kita memilih kandidat yang salah, hanya karena tergiur hadiah musiman.

Banyak pelajaran yang saya dapat dari beberapa kali diskusi dengan Taslim. Yang mahal itu ilmu yang dia bagi, pengalaman yang dia ceritakan. Kalau boleh saya ibaratkan saya dapat kuliah kilat politik.

Kalaupun saya tidak sebagai kader partai atau ikut jadi kandidat, saya tetap harus paham politik. Karena ini menyangkut nasib saya dan anak-anak saya nantinya. Kalau seandainya dapat penguasa yang kurang ajar, bisa hancur masa depan anak-anak saya.

Satu hal lagi, meski tidak dalam masa kampanye. Taslim tetap mau berdiskusi atau membagi pengalaman, tidak ada yang berubah. Dia seperti itu adanya. Memang saya tidak mengenal terlalu dekat, tapi dari sudut pandang saya, dia bisa jadi guru, teman diskusi, dan pemimpin.

Kalau seandainya tahun 2014 saya saya hanya memikirkan uang, mungkin cara pandang saya tetap politik tetap akan sama. Dia memberi saya sudut pandang dan ilmu yang mahal. Kalau duit mungkin sebatas kedai kopi udah habis, tidak ada bekas nya lagi.

Saya hanya mau mengucapkan terimakasih.. (analisa)