Tim Dosen Unand Dampingi Pembibitan Durian Unggul

oleh -531 views
Tim Dosen Unand bersama mahasiswa serta Balitbu Tropika Solok lakukan pengabdian pembibitan durian unggul di Batu Busuak yang sebentar lagi kembali dikenal menjadi Kampung Durian di Padang, Jumat 8/11 (foto: dok/timdos)

Padang,—Mahasiswa dan tim dosen terluhat sedikit gamang berjalan di jembatan gantung yang berayun mengikuti kemana arah berat tubuh rombongan.

Jembatan yang persis berada di atas pemandian Lubuk Mande Rubiah Batu Busuak. Rombongan melintas jembatan itu jelas berbeda dengan pengunjung pemandian yang membawa berbagai perlengkapan untuk mandi di lubuk berair hijau yang jernih itu.

Tapi rombongan itu justru bergegas menuju pembibitan durian yang terletak 100 meter dari lokasi pemandian tersebut.

Mereka rupanya mahasiswa Universitas Andalas bersama dosen pendamping yang ingin berpartisipasi pada kegiatan pembibitan durian unggul di lokasi pembibitan tersebut. Pembibitan durian sendiri dilakukan Tim Dosen Fakultas Pertanian Universitas Andalas tersebut merupakan satu bentuk kegiatan pengabdian masyarakat Unand di salingka kampus Unand.

Menurut ketua pelaksana Dr. P.K. Dewi Hayati, kegiatan pendampingan petani durian sudah dilakukan sejak tahun 2018.

“Masyarakat di sini cukup respon bahkan kami tim dosen dan mahasiswa bersama masyarakat sama berharap ke depan itu Batu Busuak menjadi kampung destinasi wisata yang komplit. Karena Batu Busuak ildari dulu menjadi salah satu sentra durian, Batu Busuak sebenarnya punya potensi juga menjadi kampung durian di Sumatera Barat,”ujar Dewi dalam reportase pendampingannya di sampaika. Ke www.tribunsumbar.com, Minggu 10/11.

Saat ini Durian Batu Busuak masih didominasi durian alam sehingga pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam aspek budidaya durian masih lemah.

Dr. Panca Jarot Santoso, pakar durian terkenal didatangkan khusus oleh tim pelaksana untuk meninjau kebun durian yang ada.

“Untuk menjadi kampung durian unggul, harus dilakukan kegiatan pembibitan durian,”ujar Jarot.

Pembibitan durian di Baru Busuak kata Dewi bagian dari budidaya durian oleh Tim Dosen Unand. Jika nanti Batu Busuak memiliki durian unggul sendiri, maka masyarakat perlu memiliki keahlian untuk memperbanyak durian unggulnya.

Dr Dewi (dua dari kiri) terlihat berdiskusi mempraktekan pembibitan durian unggul di Batu Busuak, Jumat 8/11 (foto: dok/ timdos)

“Masyarakat Batu Busuk bisa menjadi penangkar durian jika menguasai teknologinya dan memiliki pohon induk yang dibutuhkan,”ujar Dr. Dewi, sapaan akrab koleganya pada ketua pelaksana tersebut.

Tim Dosen Unand bersama mahasiswa selain bawa ilmu pengetahuan juga melengkapi kebutuhan pelatihan termaauk bibit unggulnha seperti mendatangkan entres dari empat varietas unggul yaitu Matahari, Kani, Kalumpang dan Bintana.

Malah kegiatan pengabdian masyarakat  Unand di Batu Busuak itu kata Dr Dewi juga merangkul banyak pihak. Ada Balai Penelitian Tanaman Buah (Balitbu) Tropika Solok, pemerintah daerah, forum masyarakat nagari, bahkan mahasiswa beastudi Etos yang sudah lebih dulu berkegiatan menjadikan Batu Busuak sebagai Despro binaan mereka.

Pembibitan dimulai dengan menyiapkan bibit yang masih muda, berumur 5-6 minggu. Bibit batang bawah yang masih mini yang baru mengeluarkan 1 lembar daun itulah yang menyebabkan teknik ini disebut sambung mini atau sambung dini.

Sukarmin dan tim dari UPBS Balitbu Tropika solok terlihat mendemonstrasikan teknik sambung, masyarakat pun dilatih bagaimana melakukan sayatan, menyambung dengan entres varietas unggul dan mengikat sambungan.

‘Saya berharap bibit durian ini bisa tumbuh dengan baik dan nantinya bisa ditanam oleh masyarakat Batu Busuak’ kata Yusrizal SSos, Lurah Lambung Bukit yang ikut menjadi peserta pelatihan bersama Eka, SP penyuluh pertanian setempat.

Kegiatan pembibitan durian di Batu Busuak juga menjadi sarana pembelajaran bagi mahasiswa Fakultas Pertanian selama tiga bulan terakhir. Edwin seorang mahasiswa, sangat berminat mempelajari teknik sambung ini karena memiliki pohon durian di kampungnya.

“Teori sudah banyak saya pelajari di kampus, tapi praktek dengan tanaman dan entres varietas unggul langsung baru kali ini. Banyak tips yang saya dapatkan langsung dari ahlinya, dan itu tidak saya dapat di perkuliahan,”ujar Edwin.

Rul, anggota masyarakat yang mengikuti pelatihan tertawa gembira ketika Fuji, mahasiswa yang mendampingi kegiatan menyebutkan bahwa persentase keberhasilan sambungan yang dilakukannya paling tinggi di antara peserta pelatihan lainnya, mencapai 75%.

“Teknik menyambung tidak sulit ternyata. Saya sangat berterima kasih kepada Tim Dosen Unand yang telah memfasilitasi kegiatan pelatihan ini. Banyak pengetahuan berharga saya peroleh sehingga akan saya praktekkan pada tanaman durian di kebun saya sendiri nanti, imbuhnya lagi,”ujar Rul.

Durian Batu Busuak difasilitasi tim Unand sudah diikutkan pada lomba durian di Balitbu Solok beberapa bulan yang lalu.

Menutut Ketua RW Anwar, Durian Batu Busuak memiliki rasa yang khas. “Ada perpaduan pahit dan manis dan rasa khas inilah yang selalu diburu para pencinta durian. Kami menunggu kabar dari Solok (Balitbu,red), mudah-mudahan durian kami mendapat nominasi,”ujar Anwar.

Monitoring yang dilakukan oleh Tim Dosen Unand Jumat 8 November 2019 memberikan hasil yang cukup memuaskan.

Walaupun tingkat keberhasilan sambungan antara peserta pelatihan, mahasiswa dan tim ahli bervariasi.

“Tapi, total bibit sambung yang berhasil tumbuh adalah sekitar 80% dari 1100 bibit yang disambung. Kegiatan masih akan berlanjut dengan pemeliharaan sampai bibit siap tanam ke lapangan tahun depan. Masih banyak teknologi tepat guna dan pengetahuan yang perlu ditransfer kepada masyarakat,” ujar Dr. P.K. Dewi Hayati.

Menurut Dewi, rehabilitasi tanaman tua atau yang kualitasnya rendah dan teknik mengebunkan durian merupakan kegiatan yang perlu dilakukan selanjutnya, di samping mengenalkan teknologi pengolahan durian.(rilis: timdos)