Untuk Pariwisata Sumbar, HM Nurnas: Ayo ‘Dipasamoan’

oleh
Majukan pariwisata Sumbar, harus lepaskan kepentingan kelompok dan ego sektoral dan daerah, HM Nurnas, Ketua Fraksi Partai Demokrat Sumbar, Sabtu 17/11 (foto: facebook/ muhammad nurnas)

Padang,—Pariwisata Sumbar itu penuh keaneka ragaman, semuanya punya karakter khas untuk memanjakan pengunjung, tapi jalan memajukan wisata di Sumbar, dinilai banyak kalangan lambat dan menoton, serta lemah kreativitas.

“Bicara ide dan gagasan untuk  wisata Sumbar, obatnya ayo dipasamoan (bersama). Lepaskanlah kepentingan kelompok, memajukanya harus menjadi perhatian bersama tidak DPRD, tidak Pemprov atau tidak penggiat pariwisata saja jalan sendiri-sendiri. Tapi semua kita harus seiring selangkah bersama untuk Sumbar ini,”ujar Ketua Fraksi Partai Demokrat DPRD Sumbar HM Nurnas, Sabtu 17/11 di Padang.

Keelokan Sumbar jujur sebenarnya kata Nurnas tidak kalah dari Bali, Jogja, Raja Ampat atau Mandalika di NTB. Sumbar itu daerah tempat berpadunya kemolekan alam dengan keramah tamahan masyarakanya dikuatkan dengan kultur sebagai orang beradat, menghormati tamu.

“Itu semua adalah kunci sukses pariwisata Sumbar maju, tapi faktanya justru Sumbar tidak termasuk 10 destinasi utama Nasional. Keinginan untuk masuk top ten pariwisata Indonesia, digenjotlah destinasi wisata baru yakni KWT Mandeh di Pessel, yang sudah digadang-gadangkan jadi Raja Ampat-nya Sumatera,”ujar Nurnas.

Mereview ke 2011 saat itu HM Nurnas berada di Komisi 3 yang membidangi infrastruktur DPRD Sumbar, Mandeh termasuk pembahasan primadona waktu itu.

“Pada 2012 saya minta dinas untuk menyiapkan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) tapi kenyataannya tidak digubris beberapa lama, baru 2017 dimulai lagi, karena Mandeh itu berada di Padang dan Pessel, maka RDTL itu harus clear terutama kejelasan peruntukan dari Kawasan Mandeh itu,”ujar Nurnas.

Mandeh itu potensi yang sangat bisa dijual dan sudah kadung mendunia
Bahkan dua Bupati Pessel Nasrul Abit (kini Wagub Sumbar) dan Hendrajoni berhasil membuat APBN suport habis Mandeh.

“Tapi jangan lupa sejarah, saat dibuka dulu itu full dana APBD Provinsi Sumbar,”ujar Nurnas yang tercatat sebagai Caleg DPRD Sumbar Dapil 2 (Kota Pariaman, Kab.Padang Pariaman) untuk Pemilu 2019.

Dibuka dan semakin mendunianya Mandeh tentu imbasnya adalah bergeliat ekonomi masyarakat, mulai dari Sungai Nyalo sampai batasnya Sungai Pisang, Bungus Teluk Kabung Kota Padang.

Padang kekinian sangat merespon menjadikan Mandeh bersama Pessel sebagai triger pariwisata Sumbar bahkan Indonesia.

Untuk fasilitas pendukung di Padang pasca gempa 2009 sampai sekarang investasi hotel seperti cendawan tumbuh di musim penghujan. Ini bisa disigi dari  tingkat hunian hotel di Padang yang grafiknya terus menarik

Tapi mesti diingat untuk membuat wisatawan long stay at Sumbar Mandeh tidak bisa berdiri sendiri harus ada suport destinasi lain dan kata Nurnas jangan cemas karena Sumbar punya banyak destinasi.

Hebat lagi, di Sumbar kata Anggota Komisi I DPRD Sumbar yang sudah duduk dua priode di DPRD Prov. Sumbar ini destinasinya alami tidak ada yang direkayasa.

Untuk itu, DPRD Sumbar terus membackup baik anggaran maupun kebijakan untuk ruas jalan Pasar Baru – Alahan Panjang sebagai sarana bikin turis lama stay di Sumbar.

“Dan ruas jalan itu menjadi penghubung kepada destinasi lain mulai Bayang Janiah, Jembatan Aka, Gunung Jantan di Puluik-puluik, terus di Alahan Panjang wisatawan di sambut indahnya Kuasa Allah yaitu Danau Diatas dan  Danau Dibawah serta hamparan kebun teh,”ujar Nurnas.

Terus kata Nurnas, dari sini  wisatawan akan ditarik oleh magnet indahnya destinasi, mau ke arah selatannya lagi ada 1000 Rumah Gadang di Solok Selatan. Atau ke utara-nya ada Danau Singkarak hingga Istana Pagaruyuang, ke arah Timur ada wisata tambang di Sawahlunto, di Sijunjung ada Silokek, lalu di Dharmasraya punya candi konon kabarnya tertua.

“Nah di Kab. Tanah Datar juga wisatawan ada pilihan ke Istano Pagaruyung, terus menjelajah destinasi ke Padang Panjang, Agam dengan Danau Maninjau, kota Bukittinggi dengan ikon Jam Gadang dan pusat wisata sejarah, kalau lanjut ke Payakumbuh ada ngalau Limapuluh Kota ada Harau,”ujar Nurnas.

Menurut HM Nurnas, itu semua menarik, menarik dan menarik, tinggal soal kemasan dan jualan yang harus dilakukan dinas dan stakeholder pendukung termasuk akademisi yang konsen sebagai pemerhati pariwisata di Sumbar.

“Dan juga harus ada upgrading soal prilaku masyarakat lokal untuk siap menjadi tuan rumah destinasi yang penuh senyum dan publik server.
Jika ini dikemas maka multi payer efect termasuk kekayaan kuliner Sumbar seperti randang yang rasanya di setiap daerah berbeda beda, maka gelombang turis datang kita menunggu saja lagi,”ujarnya.

Tapi persoalan klasik selama ini menurut Nurnas adalah ego sektoral dan ego daerah. Pada hal untuk menyatukan ini peran Gubernur sangat kuat.

Mampasamokan wisata Sumbar ini, Gubernur Sumbar bisa mengunakan UU 23 tahun 2014 yang memberikan kewenangan lebih besar kepada Gubernur.  Untuk bersinergi mestinya pak Gubernur bisa panggil kepala daerah Kota dan Kabupaten supaya tidak ada ego sektoral daerah maka perencanaan dan maphingnya provinsi harus siap dulu,”ujar HM Nurnas

(mel)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *