Jakarta, - Kepala BP BUMN sekaligus COO Danantara, Dony Oskaria, memaparkan arah baru pengelolaan BUMN sebagai mesin investasi nasional dan pilar ketahanan ekonomi Indonesia. Menurutnya, Presiden menempatkan BUMN sebagai kekuatan utama agar Indonesia tidak terus bergantung pada modal asing.
Dony menjelaskan, konsep tersebut sejalan dengan model state capitalism, yakni negara memanfaatkan perusahaan milik negara untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Model itu, kata dia, telah diterapkan sejumlah negara besar seperti Tiongkok.
“BUMN harus menjadi kontributor utama penggerak ekonomi kita. Kita harus mampu membangun investasi sendiri,” ujar Dony Oskaria saat disebuah acara pada Selasa, (21/4/2026) di Jakarta.
Model Lama Dinilai Tidak Efektif
Ia menilai pola lama pengelolaan BUMN berjalan sendiri-sendiri atau silo-silo. Meski sama-sama milik negara, antarperusahaan tidak memiliki koneksi korporasi yang kuat.
“Dulu BUMN itu berdiri sendiri-sendiri. Tidak ada korelasi korporasi yang kuat antarperusahaan,” kata Dony.
Sebagai contoh, Pertamina, PLN, dan Bank Mandiri tidak saling terhubung secara bisnis. Akibatnya, ketika satu BUMN bermasalah, tidak ada dukungan struktural dari BUMN lain.
Menurut Dony, kondisi itu menyebabkan banyak perusahaan negara kehilangan daya saing, bahkan berhenti beroperasi. Ia menyinggung nama Jakarta LIoyd serta PT INTI sebagai contoh BUMN yang pernah berjaya namun kemudian melemah.“Banyak perusahaan besar yang dulu kita kenal, sekarang mengalami penurunan bahkan tutup,” ujarnya.
Danantara Berbasis Dividen BUMN
Dony menegaskan Danantara berbeda dengan sovereign wealth fund negara lain. Jika di banyak negara dana investasi berasal dari surplus fiskal, maka Danantara dibangun dari dividen hasil pengelolaan BUMN.
“Keberlanjutan Danantara sangat tergantung pada kemampuan kita mengelola BUMN,” katanya.
Editor : Editor