Selat Hormuz dan Bayang-Bayang Krisis Energi Global

Foto Two Efly

Perang tidak selalu hanya menelan korban jiwa. Dalam banyak kasus, perang juga memicu krisis ekonomi yang jauh lebih luas. Ketegangan di Selat Hormuz bisa menjadi mimpi buruk dunia. Jika konflik di kawasan ini terus memanas, dampaknya bukan hanya dirasakan oleh negara-negara Timur Tengah saja. Ekonomi dunia bisa terguncang termasuk kita di Indonesia.

Selat Hormuz adalah urat nadi energi global. Sekitar 20 persen pasokan energi dunia melintasi jalur laut sempit ini setiap hari. Minyak dari Kuwait, Qatar, dan berbagai negara Teluk lainnya diangkut melalui selat tersebut sebelum didistribusikan ke berbagai negara. Setiap ketegangan terjadi di kawasan ini selalu membuat pasar energi global waspada.

Bagi Indonesia, konflik di Timur Tengah bukan sekadar berita internasional. Dampaknya bisa langsung terasa pada kondisi ekonomi nasional. Dengan status sebagai negara pengimpor bahan bakar minyak dan kondisi fiskal yang belum terlalu kuat, Indonesia sangat bergantung pada stabilitas harga energi dunia. Semakin lama konflik berlangsung, semakin rentan pula ketahanan energi nasional.

Tekanan terhadap APBN

Lonjakan harga minyak dunia hampir selalu menjadi ancaman bagi APBN. Dalam APBN 2026, pemerintah menetapkan asumsi harga minyak mentah sekitar US$70 per barel. Namun kenyataannya, harga minyak dunia kini telah merangkak naik keangka US$93 per barel. Artinya, sudah terjadi deviasi sekitar US$23 per barel dari asumsi yang digunakan dalam perhitungan APBN.

Baca juga: Pasar Ghoib

Jika selisih ini terus melebar dan harga minyak menembus diatas US$100 per barel, tekanan terhadap APBN akan semakin berat. Pemerintah bisa dipaksa melakukan penyesuaian harga BBM di dalam negeri, termasuk BBM bersubsidi seperti Pertalite dan Bio Solar. Ini juga bisa memicu gejolak politik dalam negeri.

Tekanan tidaklah berhenti di situ. Kenaikan harga minyak biasanya diikuti oleh gejolak di pasar keuangan global. Ketika ketidakpastian meningkat, investor cenderung mencari aset yang lebih aman.

Dolar Amerika Serikat menjadi salah satu tujuan utama. Akibatnya, mata uang negara berkembang seperti rupiah ikut tertekan. Dalam APBN 2026, nilai tukar rupiah diasumsikan berada di kisaran Rp16.500 per dolar. Namun saat ini kurs telah bergerak keangka Rp16.800 per dolar. Artinya, tekanan eksternal perlahan mulai menggerus asumsi makro yang digunakan dalam APBN.

Tiga Risiko Besar

Konflik di Timur Tengah setidaknya menyimpan tiga risiko besar bagi pasar energi global.

Pertama, lonjakan harga minyak yang tidak terkendali. Jika Selat Hormuz terganggu atau bahkan diblokade, pasokan minyak dunia bisa terhambat. Pada saat yang sama, sejumlah negara produsen minyak juga dapat mengurangi produksinya karena faktor keamanan. Situasi seperti ini pernah terjadi pada era perang Iran dan Irak pada 1980-an. Saat itu pasar energi global mengalami tekanan besar dan harga minyak melonjak tajam.

Kedua, serangan terhadap fasilitas energi di kawasan Teluk. Timur Tengah memiliki sejumlah kilang dan ladang minyak terbesar di dunia. Jika fasilitas-fasilitas ini diserang, produksi minyak global bisa langsung turun drastis.

Banner Ultah Danantara
Bagikan

Opini lainnya
Terkini