Padang,---Praktisi Perminyakan jebolan Fakultas Teknik Unand Padang, Surya Tri Harto, menyatakan untuk energi baru terbarukan (EBT), Indonesia harus tentukan fokusnya kemana.Pasalnya, makan kedepan maka energi baru terbarukan sangat penting, bahkan bisa menggeser energi selama ini dikonsumsi masyarakat, yakni minyak bumi, batubara dan gas bumi.
"Ketiga energi bersumber dari fosil itu, sangat berpengaruh kepada efek rumah kaca karena melahirkan emisi karbon, dan itu dikuatirkan oleh negara-negara di Atlantik Utara, karena suhu bumi naik akibatkab es di Kutub mencair itu akan mempengaruhi iklim dunia," ujar Surya pada Dialog Kedjajaan DPP IKA Unand, Sabtu 3/2 di Sikola Cafe jalan Kimangun SarkoroPadang.Menurut Surya, kira-kira satu abad yang lalu sudah dipikirkan pengaganti energi selain minyak bumi seperti energi baru terbarukan.
"Tapi hingga saat ini belum ada upaya masive untuk melahirkan energi baru terbarukan pengganti minyak, batubara dan gas, termasuk soal nilai investasi yang dihasilkannya,"ujar Surya.Energi alternatif, air, gheothermal, biomassa dan biofuel serta nuklir. "Tapi belym satu pun mengalahkan biaya keekonomian minyak bumi,"ujar Surya.Geothermal memang terbaik dalam nilai ekonomi, lalu biofyel dan biomassa. Ke empat sinar matahari."Geothermal mestinya menjadi cadangan pengganti utama energi bersumber dari fosil, karena secara ekonomis oke, teknologi kita siap, biaya produksi per unit dudah mendekati nilai minyak bumi,"ujarnya.
Indonesia umumnya dan terkhusus Sumbar punya semua sumber energi baru terbarukan di atas."Sumbar punya, tidak kemana mana dan bisa dipakai tanpa harus dijual keluar, biofuel juga oke nilainya, tapi untuk Sumbar mestinya harus fokus pada EBT bersumber Geothermal karena energi ini visible dan nilai produksinya tidak beda jauh dengan minyak bumi maupun batubara,"ujarnya.(wanteha)
Editor : Adrian Tuswandi, SH