Di Antara Danantara, IPO Angkasa Pura Indonesia dan Odysseus (Edisi 1 BUMN)

Foto Rio Eka Putra, MAPPI (Cert.)
Ilustrasi Di Antara Danantara, IPO Angkasa Pura Indonesia dan Odysseus (Edisi 1 BUMN)

Sebelum kembali menuju Ithaka, Odysseus harus membuat rakit. Dalam kisah Homer, ia memotong kayu, menyatukannya, lalu memasang layar. Bekal disiapkan. Ketika akhirnya berlayar, ia menjaga arah dengan memperhatikan Bintang agar sampai ke Rumah nan jauh di Mata. Adegan ini menyimpan pelajaran sederhana: keinginan untuk tiba memerlukan persiapan dan kemampuan bertahan sepanjang perjalanan. Pelajaran itu terasa dekat ketika kita membicarakan masa depan perusahaan milik negara - BUMN.

Negara mempunyai kebutuhan yang tidak dapat menunggu terlalu lama. Sekolah harus berjalan, layanan kesehatan perlu dibiayai dan program strategis lain harus berjalan sebagaimana mestinya. Berdasarkan Laporan Keuangan Pemerintah Pusat tahun 2025 mencatat bahwa pendapatan dan hibah negara sebesar Rp2.765,13 triliun, sementara belanja negara sebesar Rp3.435,46 triliun. Kebutuhan penerimaan kembali mendapat perhatian ketika Purbaya Yudhi Sadewa, saat masih menjabat sebagai Menteri Keuangan, menyebut rencana setoran keuntungan Danantara Rp120 triliun pada awal September 2026. Menurut laporan CNA, pejabat Danantara kemudian menyatakan rencana itu belum dibahas. Pernyataan tersebut belum menjadi keputusan dividen. Namun, persoalan yang diangkatnya layak dipikirkan: bagaimana memperbesar hasil perusahaan tanpa mengurangi kemampuannya untuk tumbuh?

Umumnya, perusahaan membutuhkan uang untuk merawat fasilitas, memenuhi kewajiban, dan mengembangkan usaha. Dilain hal, pemilik usaha juga mengharapkan dividen, yakni bagian laba perusahaan yang dibagikan kepada pemilik usaha. Salah satu pilihan pendanaan telah dikemukakan sebelumnya yang disampaikan pada tanggal 5 Agustus 2026, Kepala BP BUMN sekaligus COO Danantara Dony Oskaria menyebut bahwa Angkasa Pura Indonesia, Pelindo, Pupuk Indonesia, dan Pegadaian berpotensi melakukan IPO atau yang disebut sebagai penawaran saham kepada Masyarakat untuk dapat memilikinya. Wacana ini patut disambut dengan sebuah pertanyaan yang lebih jauh apakah IPO memberikan manfaat baik kepada masyarakat serta negara daripada sekedar memikirkan seberapa jauh uang yang akan didapatkan melalui IPO.

Menurut saya, di situlah ujian IPO. Untuk edisi pertama ini, saya akan mengulik tentang BUMN Angkasa Pura Indonesia. Seyogyanya sutikan modal yang didapatkan melalui IPO akan membuat perputaran usaha menjadi lebih baik, memperlebar keuntungan pemegang saham lama, memperbaiki tata kelola dan meningkatkan layanan kepada masyarakat. Hubungan ini dapat dijelaskan secara sederhana. Dana penerbitan saham baru yang berasal dari IPO dapat digunakan sebagai pelunasan utang yang mengurangi beban bunga serta menghasilkan investasi yang berhasil dapat menambah penghasilan perusahaan. Selanjutnya, keterbukaan akan memperbaiki tata kelola dan kinerja perusahaan yang nantinya akan berdampak kepada peningkatan laba dan kas di mana kemudian akan membuka ruang dividen setelah kebutuhan usahanya dipenuhi. Dana IPO sendiri merupakan modal, bukan laba atau setoran dividen langsung kepada APBN. Apabila saham lama yang dijual, hasilnya menjadi hak pemegang saham yang menjual. Oleh karena itu, Struktur penawaran IPO menentukan kemana arah uang akan mengalir.

Untuk melihat manfaatnya, bayangkan seorang penumpang tiba di bandara setelah lama merantau. Keluarganya menunggu di luar dan Ia bergerak dengan nyaman dan bahagia di pintu kedatangan menuju tempat mereka bertemu. Di balik ilustasi ini, Angkasa Pura Indonesia, atau API harus memiliki fasilitas dan sistem bandara yang andal serta presisi. Untuk memberikan peningkatan kenyaman dan layanan di seluruh negara Republik Indonesia, tentunya memerlukan kondisi keuangan yang stabil dan sehat. Tambahan modal dari IPO adalah cara agar menjaga kondisi keuangan tetap sehat tanpa membebani APBN dan membuat tata kelola layanan menjadi lebih baik. Akan tetapi perusahaan perlu memilih dengan bijak dan mempertimbangkan skala prioritas penggunaan dana yang paling besar manfaatnya.

Pilihan pertama yang layak diuji ialah pelunasan utang secara selektif. Setiap bunga yang dapat dihemat memberi ruang bagi kebutuhan lain, setelah memperhitungkan pajak dan biaya pelunasan. API perlu memetakan utang yang masih terutang menjelang IPO, memeriksa ketentuan penebusannya, lalu membandingkan penghematan dengan manfaat penggunaan kas untuk keperluan lain dengan tetap menjaga uang operasional cukup dalam memastikan keselamatan, keamanan, pelayanan dan kepatuhan terhadap penumpang. Dengan cara ini, pelunasan utang menjadi keputusan usaha yang terukur.

Ruang keuangan yang terbuka selanjutnya dapat diarahkan pada perbaikan yang dekat dengan pekerjaan sehari-hari. Misalnya, mengurangi konsumsi energi tanpa menurunkan kenyamanan, memperlancar proses pelayanan, dan meningkatkan produktivitas ruang komersial. Setiap usulan harus menjawab berapa biaya yang diperlukan dan kapan hasilnya terlihat?. Tagihan energi dapat dibandingkan dengan tingkat pemakaian fasilitas; pendapatan ruang komersial dinilai bersama tingkat keterisian dan biayanya. Program yang sudah layak dan mampu dibiayai sebaiknya dimulai sebelum IPO. Maka bukti perbaikan ini nantinya membantu investor dan masyarakat untuk menilai perusahaan dalam bentuk prospektus.

Di sinilah penilaian saham mempunyai peran. Pada indikatif awal, API dengan tanggal penilaian 31 Desember 2025, saya menggunakan pendekatan pasar melalui pembandingan dengan perusahaan terbuka yang sebanding, dikenal sebagai GPTC. Kemiripan nama usaha saja belum cukup; cara menghasilkan pendapatan, risiko, dan kemampuan memperoleh laba perlu diperhatikan. Sumber laba juga ditelaah. Keuntungan dari transaksi aset yang terjadi sekali tidak dapat langsung dianggap akan hadir setiap tahun. Penyesuaian tersebut membantu membaca kemampuan usaha yang berkelanjutan. Laba hasil penyesuaian tetap harus dibedakan dari uang tunai yang tersedia dan pertimbangan Diskon Likuiditas Pasar (DLOM). Adapun dasar yang digunakan adalah Nilai Pasar dan nilai yang dihasilkan adalah nilai saham minoritas sebagaimana yang diatur oleh POJK 35 dan SPI&KEPI serta semua data yang digunakan adalah data yang dapat diakses oleh Publik dan Masyarakat.

Berdasarkan Laporan Audit API tahun 2025, diketahui nilai modal awal API sebesar Rp25,25 Triliun, yang terdiri dari 25,25 juta lembar saham dengan nilai nominal Rp1 Juta per lembar saham. Selanjutnya disaat yang sama diketahui Nilai Buku Ekuitas API per tanggal 31 Desember 2025 adalah Rp37,24 Triliun. Berdasarkan hasil indikasi penilaian tanggal penilaian 31 Desember 2025 diketahui bahwa indikasi Nilai Pasar 100% Ekuitas API sebesar 49,13 Triliun atau 1,32x dari nilai buku ekuitas API. Bayangkan bahwa API akan menerbitkan dan melepaskan 15% lembar saham baru kepada publik. Atas hal ini, API akan mendapatkan dana segar sebesar Rp8,67 Triliun. Dana bersih ini tentu saja akan menambah ekuitas buku Perusahaan menjadi Rp45,91 Triliun. Akan tetapi kenaikan tersebut berasal dari setoran investor, maka penciptaan nilai atau bahasa sederhananya keuntungan atau manfaat dari IPO ini perlu dibuktikan melalui penggunaan uang yang melebihi biaya dan risiko yang ditanggung oleh negara dan masyarkat selaku pemilik modal.

Selain itu, ada hitungan lain yang perlu ditelaah dalam menjelaskan kepentingan pemegang saham eksisting (Pemerintah) terhadap hak klaim ekonomi atas modal yang dimiliki. Dalam banyangan kita tadi, porsi saham yang dimiliki pemerintah tinggal 85 persen. Asumsikan dengan hak ekonomi saham yang sama, maka total keuntungan perusahaan harus naik sekitar 17,65 persen setelah IPO agar nominal yang diterima pemegang saham lama adalah tidak tergerus dengan adanya pemegang saham baru. Selanjutnya, dengan adanya IPO ini, kenaikan lebih besar diperlukan agar penerimaan bertambah. Akan tetapi yang perlu diingat, Investasi membutuhkan waktu agar pengembalianya dapat terpulihkan dengan baik. Selain itu, Laba di tingkat perusahaan tidak otomatis menjadi penerimaan kas negara karena masih bergantung pada keputusan pemegang saham dan mekanisme penyetorannya.

Banner Relasi Publik
Bagikan

Opini lainnya
Terkini