Dony Oskaria : Kebenaran itu Adalah Persepsi

Foto Dony Oskaria : Kebenaran itu Adalah Persepsi
Foto Dony Oskaria : Kebenaran itu Adalah Persepsi

*To be is To be Percieved*(Esse est percipi)

Catatan Si DonySETIAP tindakan, ucapan, gerakan dan perilaku yang kita lakukan adalah sebuah stimulus yang kita kirimkan kepada siapapun yang melihat, mendengar, dan menerimanya.

Stimulus yang ini akan memunculkan persepsi bagi penerimanya. Kata kata bijak pada judul diatas mengatakan bahwa kebenaran itu adalah persepsi, atau dengan kata lain realitas diluar persepsi tidak pernah ada.Kata-kata ini banyak sekali dipakai diberbagai disiplin, baik itu di dunia marketing, politik, Etika pergaulan dan bahkan di dunia IT pada era milineal sekarang.

Namun sebaliknya sebagian besar malah abai akan hal ini, dengan menganggap kebanaran mereka adalah mutlak, dan menganggap kebenaranya sama dengan orang lain.Padahal kebenaran di mata seseorang adalah persepsi yang terbentuk dari stimulus yang dia terima dan diartikan berdasarkan pengetahuan dan nilai yang dia pahami. Karena itulah setiap manusia memberikan respons atau persepsi yang berbeda-beda pada setiap peristiwa.

Berdasarkan kepada pendekatan ini, seorang marketer akan menentukan terlebih dahulu respons atau persepsi apa yang kita inginkan dari target, barulah mendesain aktifitas-aktifitas marketing apa yang di lakukan.Setiap individu pada dasarnya. dalam kehidupanya adalah marketer bagi dirinya sendiri, ada yang menyadari ada yang tidak menyadari,dia membangun persepsi terhadap dirinya. Tentu kita sering mendengar sebut saja si A orangnya bijak, B itu orangnya Alim, si C orangnya sombong, dan puluhan identitas lainnya ini sering disebut juga dengan personal branding ( how others see you ). Lalu bagaimana kita ingin dipersepsikan?

Di dalam dunia politik hampir semua politisi mempergunakan pendekatan yang sama, karena itu mereka memerlukan konsultan politik yang pada umumnya adalah ahli komunikasi atau psikologi sosial karena itu terminologi politik pencitraan tidaklah salah karena pada dasarnya seorang politisi memang membangun citranya di mata pemilih dan pemilih pun memilih berdasarkan citra yang mereka kenal.Berdasarkan pemahaman di atas membangun persepsi di dalam pergaulan adalah sangat penting sebagai bagian dari personal branding. Banyak yang tidak menyadari bahwa perilaku sosial media kita mencerminkan siapa kita. Di era meilenial ini banyak hal yang diputuskan dengan menganalisa perilaku sosial media seseorang, perusahaan dalam merekrut karyawan akan melihat sosial media kandidat, promosi jabatan juga demikian, berbagai macam posisi ditentukan dari perilaku sosial media, karena perilaku sosial media membangun persepsi terhadap diri kita.Karena itu kita harus bijak didalam bersosial media.

Berikut adalah tips untuk mempergunakan sosial media dengan baik1. Jaga hal hal yang bersifat pribadi secara offline. Gunakan "private message dan jangan terlibat argumen yang saling benci secara online. Tidak akan ada yang menang

2. Hati hati dengan apa yang kita posting. Berfikir sebelum kita posting tidak akan membuat kita menjadi tua.3. Jagalah intonasi kita tetap baik, jangan pernah pergunakan huruf besar karena dianggap berteriak atau emosi

4. Hapus atau pisahkan teman teman yang terus menerus memprovokasi dan memberikan koment yang kurang baik5. Berinteraksi dengan empati dan saling menghormati. Di mana pun kita online pastikan setiap message yang kita kirim menghargai orang lain

6. Matikan sosial media jika kita tidak dalam situasi yang menyenangkan, sebelum kita terlanjur memposting sesuatu yang akan membuat kita menyesal7. Jangan terlalu mudah men-sharing sesuatu.

Editor : Adrian Tuswandi, SH
Banner Sekjen PWI PusatBanner Rahmat Saleh - Milda Berdaya
Tag:
Bagikan

Berita Terkait
Terkini