Jakarta, - Kongres DPP Ikatan Alumni (IKA) UNAND diawali dinamika keras karena ada dua tanggal Kongres.
Tapi setelah urung rembug dan turun para dedengkot IKA UNAND, akhirnya 2 jadwal Kongres yakni 15 November dan 6 Desember pun satu menjadi 29 November 2025.
Sekarang dua kubu menyatu bertekad menjadikan Kongres berdampak untuk Kedjajaan Bangsa.
Tapi melihat dinamika tak ada aroma pemilihan Ketua Umum dengan musyawarah atau aklamasi.
Tapi muncul banyak calon ketum, diyakini peserta dan pemerhati Kongres VII IKA UNAND, pemilihan ketua umum votting.
"Ini yang kita sikapi, kok harus votting, sepertinya IKA UNAND itu condong ke pola politik praktis, harusnya IKA UNAND organisaai guyub lebih memperkuat silaturahmi, maka pemilihannya musyawarah mufakat harga mati,"ujar alumni senior UNAND, H Fahmiron, Kamis (27/11/2025) kepada wartawan di Jakarta.Menurut Fahmiron, pemilihan ketua umum secara aklamasi tentu menepis perbedaan, kalau votting dipastikan Alumni UNAND itu terpecah kepada kubu kubuan.
"IKA UNAND itu organisasi non pokitik, IKA UNAND itu organisaai sosial yang sarat dengan silaturahmi, tidak ada kepentingan politik di IKA UNAND itu, jadi saya geli saja menyaksikan pola demokrasi sedang disemai oleh Panitia OC atau SC Kongres 7,"ujarnya.
Fahmiron masih meyakini banyak pemilik suara yang mendukung ide pemilihan Ketua Umum secara aklamasi.
"Toh, tokoh UNAND itu banyak dan punya prinsip demokrasi tanpa votting, banyak maju Calon Ketua Umum silahkan saja, tapi pas di Kongres Baiyo Batido se awak samo awak ko,"ujar Fahmiron.
Editor : Editor