Jakarta, - Senator Republik Indonesia asal Sumatera Barat, Irman Gusman, menegaskan bahwa esensi dari kepemimpinan visioner tidak ditemukan dalam zona nyaman, melainkan dikristalisasi melalui ketangguhan dalam menghadapi krisis besar dan dinamika perubahan zaman.
Hal tersebut disampaikan Irman Gusman usai menghadiri forum prestisius Supermentor-28 on Leadership yang berlangsung di The St. Regis Jakarta, Selasa malam (14/4/2026).
Forum ini menjadi panggung refleksi bagi para tokoh nasional dan internasional untuk membedah anatomi kepemimpinan di tengah ketidakpastian global.
Menurut Irman, yang juga merupakan Ketua DPD RI dua periode (2009–2016), pelajaran dari para tokoh dunia dalam forum tersebut merupakan pengingat krusial bahwa sejarah hanya mencatat pemimpin yang hebat itu berani mengambil keputusan sulit di saat genting.
“Sejarah membuktikan bahwa pemimpin besar tidak lahir dari situasi yang mudah. Mereka dibentuk oleh keberanian moral dan keteguhan karakter saat menghadapi ujian zaman. Kepemimpinan visioner adalah tentang navigasi di tengah krisis untuk membawa bangsa menuju pelabuhan yang lebih aman,” ujar Ketua Dewan Pakar Ekonomi UMKM PP Muhammadiyah tersebut.
Irman menyoroti tiga narasi besar yang diangkat dalam Supermentor-28 sebagai referensi utama bagi lintas genarasi, terkhusus lagi untuk generasi muda Indonesia:Nelson Mandela: Melalui perspektif mantan asistennya, Ebrahim Rasool, mengenai kekuatan rekonsiliasi untuk mempersatukan bangsa yang terpecah.
Lee Kuan Yew: Melalui ulasan Prof. Chan Heng Chee mengenai disiplin visi yang mengubah sebuah negara kecil menjadi kekuatan ekonomi dunia (nation-building).
Sementara itu, Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono: Tentang seni mengelola stabilitas dan pengambilan keputusan strategis di masa transisi dan krisis nasional.
“Indonesia saat ini berada dalam fase perubahan dinamis yang menuntut pemimpin yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga tangguh secara moral,” tambah Anggota Komite I DPD RI ini.
Editor : Editor

