Menurut Dony, perusahaan farmasi pelat merah tersebut sebelumnya berada dalam kondisi negatif. Namun setelah menjalani restrukturisasi, kinerjanya mulai membaik dan telah mencatatkan hasil positif pada kuartal pertama tahun ini.
Selain Krakatau Steel dan Kimia Farma, perhatian publik juga banyak tertuju pada Garuda Indonesia.
Menanggapi kritik yang menyebut Garuda terus menerima suntikan dana tetapi belum menunjukkan hasil signifikan, Dony menegaskan bahwa restrukturisasi maskapai nasional tersebut tidak bisa dilakukan hanya dengan menambah modal.
Menurutnya, Danantara terlebih dahulu memperbaiki fundamental bisnis perusahaan sebelum melakukan injeksi modal.
Salah satu langkah yang ditempuh adalah debt-to-equity swap, yakni mengubah utang Citilink kepada Pertamina menjadi kepemilikan saham.
Langkah ini membuat posisi ekuitas Citilink menjadi lebih sehat karena beban utangnya berkurang secara signifikan.
Selain itu, restrukturisasi juga dilakukan terhadap GMF AeroAsia melalui penguatan struktur modal dan optimalisasi aset.Dony menjelaskan bahwa masalah utama Garuda selama ini adalah tingginya jumlah pesawat yang grounded.
Saat proses transformasi dimulai, sekitar 38 pesawat Citilink tidak beroperasi.
Padahal, meskipun tidak terbang, perusahaan tetap harus membayar biaya leasing pesawat.
Editor : Editor
