3 Strategi Scalping Terbaik dalam Trading Crypto

Ilustrasi analisis grafik kripto. (Foto: Ist)
Ilustrasi analisis grafik kripto. (Foto: Ist)

Keunggulan strategi ini terletak pada kemampuannya mengikuti arah tren jangka pendek. Dengan demikian, trader tidak hanya mengandalkan intuisi, tetapi juga memiliki dasar teknikal yang lebih objektif dalam mengambil keputusan.

Meski demikian, indikator Moving Average memiliki kelemahan karena bersifat lagging indicator. Artinya, sinyal baru muncul setelah harga mulai bergerak. Oleh sebab itu, trader sebaiknya mengkombinasikan Moving Average dengan indikator lain seperti RSI atau volume perdagangan agar peluang menghasilkan sinyal palsu dapat dikurangi.

2. Manfaatkan Indikator RSI dan Area Support-Resistance

Strategi berikutnya yang banyak digunakan trader scalping adalah mengombinasikan Relative Strength Index (RSI) dengan level support dan resistance. Pendekatan ini membantu trader mengidentifikasi momentum pasar sekaligus menentukan area yang berpotensi menjadi titik pembalikan harga.

RSI merupakan indikator momentum yang mengukur kekuatan pergerakan harga dalam skala 0 hingga 100. Umumnya, nilai RSI di bawah 30 menunjukkan kondisi oversold atau jenuh jual, sedangkan nilai di atas 70 mengindikasikan kondisi overbought atau jenuh beli.

Namun, trader tidak disarankan membuka posisi hanya berdasarkan RSI. Sebagai contoh, ketika RSI memasuki area oversold, harga belum tentu langsung berbalik naik. Oleh karena itu, konfirmasi dari level support menjadi faktor penting sebelum mengambil keputusan.

Jika harga bertahan di area support dan RSI mulai bergerak naik, peluang terjadinya rebound biasanya lebih besar. Sebaliknya, ketika RSI berada di area overbought dan harga mulai mendekati resistance, trader dapat mempertimbangkan untuk mengamankan keuntungan atau menunggu sinyal koreksi.

Strategi ini cukup efektif diterapkan pada aset crypto dengan volatilitas tinggi karena mampu memberikan sinyal masuk dan keluar yang lebih terukur. Meskipun demikian, trader tetap perlu memperhatikan volume perdagangan agar keputusan yang diambil memiliki probabilitas lebih tinggi.

3. Gunakan VWAP dan Volume Breakout

Strategi ketiga yang populer di kalangan scalper profesional adalah memanfaatkan Volume Weighted Average Price (VWAP). Indikator ini menunjukkan rata-rata harga aset berdasarkan volume transaksi sehingga sering digunakan untuk mengetahui apakah harga berada di atas atau di bawah nilai wajarnya selama sesi perdagangan.

Ketika harga bergerak di atas garis VWAP dan didukung peningkatan volume transaksi, kondisi tersebut sering dianggap sebagai sinyal bahwa pembeli mulai mendominasi pasar. Sebaliknya, apabila harga berada di bawah VWAP disertai volume yang melemah, tekanan jual cenderung masih menguasai pergerakan harga.

Trader biasanya mengombinasikan VWAP dengan analisis breakout. Misalnya, ketika harga berhasil menembus resistance disertai lonjakan volume, peluang kelanjutan tren naik menjadi lebih besar. Sebaliknya, breakout tanpa dukungan volume berisiko berubah menjadi false breakout, yaitu kondisi ketika harga kembali masuk ke area sebelumnya setelah sempat menembus resistance.

Editor : Editor
Bagikan

Berita Terkait
Terkini