Sebaran abunya menjangkau area sampai 350 km ke arah utara. Dilansir situs Volcano Discovery, erupsi lebih kuat lagi terjadi pada 23 April 2001. Saat itu kolong abu menjulang hingga 6 km. Gunung Marapi meletus dengan ledakan cukup fatal beberapa kali, yakni pada 1975, 1979, dan 1992. Rata-rata frekuensi erupsi Gunung Marapi berlangsung pendek, yaitu kurang dari 5 tahun sekali. Inilah yang menjadikan gunung ini sangat aktif. Terlebih, waktu kejadian erupsinya pun tidak bisa diprediksi. Pada 3 Desember 2023, Gunung Marapi meletus lagi.
Di mana, kolom abu letusan itu mencapai 3.000 m dari puncak. Erupsi mendadak itu menyebabkan 24 pendaki meninggal. Pasca erupsi pada 3 Desember 2023, erupsi lanjutan masih berlangsung. Jumlah erupsi harian cenderung menurun. Namun, sebaliknya, jumlah gempa low frequency dan vulkanik dalam (VA) cenderung meningkat.Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi atau PVMBG Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral meningkatkan status tingkat aktivitas Gunung Marapi menjadi Level III atau Siaga.
Warga dilarang memasuki atau beraktivitas di kawasan dengan radius 4,5 km dari pusat erupsi.”Berdasarkan hasil analisis dan evaluasi secara menyeluruh, maka tingkat aktivitas Gunung Marapi dinaikkan dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) terhitung dari 9 Januari 2024 pukul 18.00,” kata Hendra Gunawan, Kepala PVMBG.Hal tersebut mengindikasikan pasokan magma dari kedalaman masih terjadi dan cenderung meningkat. Hal ini juga terlihat dari grafik baselinereal seismic amplitude measurement (RSAM) yang masih di atas normal dan data tiltmeter yang cenderung mendatar.
”Adanya aktivitas erupsi yang teramati secara visual dan masih terekamnya gempa erupsi dan gempa embusan yang disertai dengan tremor menerus menunjukkan aktivitas Gunung Marapi masih tergolong tinggi,” lanjutnya. Menurut Hendra, data dari satelit Sentinel juga menunjukkan laju emisi (fluks) gas SO2 yang dihasilkan dari aktivitas Gunung Marapi saat ini tergolong tinggi.Atas peningkatan status itu, PVMBG mengeluarkan sejumlah rekomendasi, antara lain warga di sekitar Gunung Marapi atau pendaki agar tidak memasuki dan berkegiatan di dalam wilayah radius 4,5 km dari pusat erupsi (Kawah Verbeek).
Kemudian, warga yang bermukim di sekitar lembah atau aliran sungai-sungai yang berhulu di puncak Gunung Marapi agar selalu mewaspadai potensi/ancaman bahaya lahar yang dapat terjadi, terutama pada musim hujan. Semua pihak juga diminta menjaga kondusivitas suasana di masyarakat dengan tidak menyebarkan hoaks dan tidak terpancing isu-isu yang tidak jelas sumbernya.(analisa)Oleh:Aina’ul Mardiyah
Mahasiswa Jurusan Fisika Universitas Andalas
Editor : Adrian Tuswandi, SH