"Kita harus memastikan proses ini berjalan berkesinambungan. Produk yang dihasilkan harus mampu bersaing di pasar internasional, yang membutuhkan investasi dalam teknologi dan peningkatan SDM," katanya.
Ia menekankan bahwa pelatihan dan pengembangan tenaga kerja menjadi prioritas untuk mendukung industri yang berkembang pesat ini.
Salah satu tantangan besar lainnya adalah gugatan internasional, seperti yang diajukan Uni Eropa ke WTO terkait larangan ekspor bijih nikel.
"Gugatan ini menunjukkan bahwa hilirisasi berdampak signifikan di tingkat global. Meski begitu, kita harus tetap fokus memperkuat daya saing dengan memperhatikan standar lingkungan serta kualitas pekerja," ujar Nevi.
Nevi, yang bermitra dengan kementerian investasi, mendorong kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat untuk memastikan manfaat hilirisasi jangka panjang.
"Investasi dalam penelitian dan pengembangan teknologi, serta ketersediaan infrastruktur yang memadai, seperti pelabuhan, jalan, dan listrik, adalah kunci mendukung hilirisasi. Transparansi dan data yang akurat dalam implementasi program ini sangat penting," tambahnya.Lebih lanjut, Nevi menegaskan bahwa melalui hilirisasi, Indonesia tidak hanya meningkatkan nilai ekonomi, tetapi juga memperkuat ketahanan ekonomi, menciptakan lapangan kerja, dan memajukan industri dalam negeri.
"Hilirisasi adalah jalan menuju kemandirian ekonomi Indonesia," tutup Nevi. (***)
Editor : MS