Target Pariwisata Sumatera Barat: Strategi "Naik Kelas" Desa Wisata dalam Lima Tahun Ke Depan

Dinas Pariwisata Sumbar melaksanakan FGD, pada Senin (9/12/2024), di Hotel Ocean Beach dengan melibatkan berbagai praktisi pariwisata, akademisi, serta stakeholder terkait. (Foto: Ist)
Dinas Pariwisata Sumbar melaksanakan FGD, pada Senin (9/12/2024), di Hotel Ocean Beach dengan melibatkan berbagai praktisi pariwisata, akademisi, serta stakeholder terkait. (Foto: Ist)

“Melalui BUMNag dan BUMDes, kita bisa menggandeng berbagai pihak, termasuk Pokdarwis dan perangkat desa, untuk mengelola dan mengembangkan sektor pariwisata yang ada,” kata Mahdianur.

Benni Sakti, Kepala Bidang Ekosda Bappeda Sumbar, menjelaskan bahwa sektor pariwisata Sumbar memiliki potensi besar untuk menjadi pendorong utama perekonomian daerah ke depan.

Pariwisata akan menjadi salah satu program unggulan dalam pencapaian visi Sumbar Sejahtera yang masuk dalam target RPJPD 2025-2045.

“Pengembangan desa wisata menjadi prioritas dalam RPJPD Sumbar. Dengan potensi alam yang luar biasa, Sumbar bertekad menjadikan sektor ini sebagai lokomotif ekonomi daerah yang progresif," ujar Benni.

M.Zuhrizul, Ketua Tim Pengembangan dan Pemberdayaan Desa Wisata (TP2 Dewi Sumbar), menekankan pentingnya komitmen dan kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat untuk memastikan keberlanjutan pengembangan desa wisata.

"Regulasi yang jelas terkait pengembangan desa wisata memang masih perlu disusun. Namun, penghargaan yang telah diterima oleh desa-desa wisata di Sumbar harus dijadikan langkah awal untuk menjamin kestabilan ekonomi desa," ungkap Zuhrizul yang akrab dipanggil Mak Etek.

Mak Etek juga menambahkan, pentingnya sinergi antara pemerintah, asosiasi pariwisata, serta perangkat nagari (desa) dalam merancang roadmap yang berbasis pada wisata edukasi, sebuah potensi yang bisa lebih dioptimalkan untuk menarik wisatawan.

Menurut Dr. Satria Harris, seorang akademisi yang fokus pada branding dan pemasaran pariwisata, tantangan terbesar yang dihadapi desa wisata di Sumbar adalah menciptakan identitas yang kuat.

Desa wisata perlu memiliki brand positioning, brand personality, dan brand identity yang jelas agar dapat bersaing di pasar pariwisata yang semakin ketat.

FGD yang diadakan ini dihadiri oleh sejumlah pakar pariwisata, termasuk Prof. Siti Fatimah, seorang ahli sejarah pariwisata, serta berbagai praktisi pariwisata dari Asosiasi Travel Agent (ASITA), Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), Dewisnu Sumbar, serta Walinagari dan Pokdarwis.

Editor : MS
Banner InfografisBanner - Gor
Bagikan

Berita Terkait
Terkini