Dolar AS yang melemah terhadap mata uang lainnya juga meningkatkan daya tarik emas karena harga menjadi lebih terjangkau bagi investor luar negeri.
Sementara itu, Bank Sentral AS (The Fed) mulai menghadapi dilema kebijakan.
Chairman The Fed Jerome Powell, dalam pidatonya di Economic Club of Chicago, menyampaikan bahwa dampak perang dagang terhadap inflasi dan pertumbuhan ekonomi membuat arah kebijakan moneter semakin sulit diprediksi.
Powell menyebutkan bahwa The Fed akan menunggu data lebih lanjut sebelum memutuskan apakah perlu menurunkan suku bunga.
Pelaku pasar memperkirakan pemotongan suku bunga akan dimulai pada Juni dengan potensi pemangkasan tiga hingga empat poin basis hingga akhir tahun.
Suku bunga rendah akan mendorong pelemahan dolar dan penurunan imbal hasil obligasi AS, sehingga menjadikan emas semakin menarik karena tidak memberikan imbal hasil tetap.Dengan semua ketidakpastian yang mengelilingi kebijakan moneter dan perdagangan global, banyak analis memprediksi bahwa harga emas dapat terus naik hingga mencapai US$3.500 per troy ons.
Namun, sebagian investor tetap waspada terhadap kemungkinan aksi ambil untung apabila terjadi perbaikan hubungan dagang antara AS dan China. (***)
Editor : MS