Hal ini tentu berdampak besar pada komersialisasi produk serta mengurangi ketergantungan impor bahan riset bioteknologi.
PDRPI FK Unand mengembangkan kedua produk tersebut dengan pendekatan full bioteknologi melalui metode kloning protein rekombinan.
Gen penyandi protein diambil dari alam atau disintesis, kemudian disisipkan ke dalam bakteri seperti E. coli.
Untuk Taq Polimerase, sumber bakteri berasal dari mata air panas di Bukit Kili Kecil, Bukik Gadang, dan Batu Bajanjang, Solok.
Sementara Reverse Transcriptase dibuat dengan menyintesis urutan DNA di laboratorium.
Bakteri indukan seperti Anoxybacillus flavithermus dan Tepidimonas ignava digunakan sebagai dasar produksi.
Proses ini berakhir dengan purifikasi protein yang siap digunakan untuk diagnosis molekuler di berbagai fasilitas kesehatan.Dr. dr. Andani Eka Putra, MSc, yang memimpin tim riset, menyatakan bahwa pencapaian ini menandai kemajuan besar laboratorium bioteknologi di Indonesia.
“Tidak semua laboratorium riset mampu mengembangkan enzim rekombinan seperti ini. Ini adalah capaian strategis,” ujarnya. Biaya riset ditanggung penuh oleh PT CTI dan hasil produksinya akan digunakan industri untuk mendukung sistem kesehatan nasional.
Saat ini, dua produk baru PDRPI tengah diuji oleh Kementerian Kesehatan, yaitu untuk skrining Tuberkulosis di delapan provinsi dan validasi panel infeksi paru di tiga rumah sakit besar.
Editor : MS
