Indomiii Rasa Rendang: Pertunjukan Seni Satir Pangan di Pekan Nan Tumpah 2025

Performer Komunitas Seni Nan Tumpah tampil dalam pertunjukan "Indomiii Rasa Rendang / Sambil Menyelam Minum Plastik" pada pembukaan Pekan Nan Tumpah 2025 di Fabriek Padang. (Foto: Ist)
Performer Komunitas Seni Nan Tumpah tampil dalam pertunjukan "Indomiii Rasa Rendang / Sambil Menyelam Minum Plastik" pada pembukaan Pekan Nan Tumpah 2025 di Fabriek Padang. (Foto: Ist)

Padang, - Komunitas Seni Nan Tumpah (KSNT) menghadirkan karya pertunjukan seni terbaru berjudul “Indomiii Rasa Rendang / Sambil Menyelam Minum Plastik” dalam pembukaan Pekan Nan Tumpah 2025. Karya ini ditulis dan disutradarai Mahatma Muhammad dengan melibatkan kolaborasi kreatif bersama Deslenda (penata gerak), Tenku Raja (penata musik), Nanda Pradinhe (penata kostum), dan Karta Kusumah (penata cahaya).

Pertunjukan ini dimainkan oleh performer KSNT seperti Desi Fitriana, Yunisa Dwiranda, Hilda Ismia Putri, Ivan Harley, Desvy Sagita, dan Deslenda. Generasi muda Kelas Nan Tumpah (Kelana) Akhir Pekan, yaitu Cadhla Tri Gunawan, Robi Al Fadriansyah, Daffa Al Zikra, dan M. Fakur Rizky, juga ikut berpartisipasi.

Pertunjukan ini mengangkat isu pangan dan ekologi melalui elegi agraria, satir pangan, dan absurditas visual. Judulnya meminjam bahasa iklan, rasa instan, serta peribahasa yang dipelintir untuk menohok ironi ketika kuliner tradisi dan tanah leluhur direduksi menjadi sekadar varian rasa dalam kemasan instan.

Panggung menghadirkan dapur tradisi yang tergeser budaya instan, tanah dan air yang diperlakukan sebagai komoditas, hingga orasi satiris yang menyingkap negara dan industri menjual polusi sebagai solusi. Visual absurd hadir melalui tubuh warga, residu plastik, dan simbol konsumsi massal.

Sutradara Mahatma Muhammad menjelaskan, “Makanan adalah politik paling nyata. Apa yang kita telan, siapa yang memberi makan, dan dari mana asalnya menentukan siapa kita. Makan bisa jadi cinta, propaganda, atau alat kontrol. Ironi ini yang saya mainkan di panggung.”

Dramaturgi pertunjukan memadukan humor gelap, absurditas, dan simbol budaya populer. Dari makanan instan, plastik sekali pakai, hingga tubuh zombie, semuanya digunakan untuk menyampaikan kritik. Selain isu politik pangan, pertunjukan juga menyinggung krisis ekologi dan relasi manusia dengan tanah yang semakin terputus.

Pekan Nan Tumpah 2025 mengusung tema “Seni Murni Seni Terapan Seni Terserah”. Tema ini membuka ruang bagi seniman untuk bereksperimen lintas disiplin dan kebebasan interpretasi.

Hari pembukaan menampilkan diskusi buku dan pelatihan menulis bersama Ikhwanul Arif dan Irmansyah, pelatihan mural bersama Zenith Graff, pertunjukan “Tarian Altraktif” oleh Aliansi Sanggar Seni Sintoga, serta pembukaan resmi festival pukul 19.30 WIB.

Setelah itu, tampil Kiraiku Nan Jombang, dilanjutkan karya “Lidah yang Tersangkut di Kerongkongan Ibu” oleh Siska Aprisia, pertunjukan KSNT, dan pembukaan pameran seni.

Festival ini berlangsung pada 24–30 Agustus 2025 di Fabriek Padang, Tabing, Kota Padang, Sumatera Barat. Informasi lebih lanjut tentang jadwal dan tiket tersedia di situs resmi pekannantumpah.com dan akun Instagram Pekan Nan Tumpah. (***)

Editor : MS
Banner Sekjen PWI PusatBanner Rahmat Saleh - Milda Berdaya
Bagikan

Berita Terkait
Terkini