“Solok Selatan dikelilingi empat segmen aktif, yaitu Suliti, Sianok, Sumani, dan Siulak. Berdasarkan catatan sejarah, segmen-segmen ini pernah memicu gempa besar, seperti tahun 1909 (M 7,6), 1943 (M 7,0), 1995 (M 6,7), dan 2007 (M 6,3),” ungkap Daryono.
Ia menegaskan bahwa gempa tidak bisa diprediksi, dan bukan gempanya yang membunuh, melainkan bangunan yang tidak tahan gempa.
“Selama bangunan kita tidak tahan gempa, potensi korban tetap ada. Karena itu, masyarakat harus hidup harmoni dengan gempa melalui mitigasi yang baik,” ujarnya.
Dengan kesiapsiagaan dan mitigasi yang kuat, Solok Selatan tidak hanya lebih aman, tetapi juga berpotensi menarik investor karena dinilai tangguh menghadapi bencana. (***) Editor : MS