Harga Fluktuatif di pasar dunia (sawit, karet, kakao). Terus produktivitas rendah kebun rakyat karena masih tradisional. Alih fungsi lahan dan persoalan lingkungan (khusus sawit).
"Juga masih kurang hilirisasi, banyak hasil dijual mentah, belum diolah menjadi produk bernilai tinggi (contoh: minyak sawit olahan, cokelat, kopi roasted).
"Jadi, sektor perkebunan sangat berpengaruh pada ekonomi daerah dan kesejahteraan masyarakat desa. Paling top itu Sawit dan gambir, disusul karet, kakao, dan kopi. Namun, agar pengaruh ekonominya lebih besar, harus hilirisasi (pengolahan di dalam daerah) dan modernisasi pertanian sangat diperlukan,"ujar Jefri.
Pengusaha nasional itu menyebutkan kalau paparan di atas bukan untuk kritikan tapi bentuk keinginan bersama ranah dan rantau majukan Sumbar dengan PE kembali di atas rata-rata PE nasional.
Bahkan dari kajian banyak pihak yang sudah teruji mengatakan, kunci pertumbuhan ekonomi (PE) Sumbar bisa lebih cepat antara lain, Hilirisasi perkebunan dan perikanan untuk menaikkan nilai tambah.Terus mendorong pariwisata internasional berbasis budaya dan alam. Bangun infrastruktur konektivitas (tol, bandara, pelabuhan). Tarik investasi energi terbarukan dan industri pengolahan.
"Aktifkan diaspora minang sebagai motor modal dan penatrasi pasar global,"ujar Jefri Nedi. (***)
Editor : MS