Tangis Sumatera Kian Membelah Hati, 914 Jiwa Gugur dan Negara Tak Boleh Menunda

Tangis Sumatera Kian Membelah Hati, 914 Jiwa Gugur dan Negara Tak Boleh Menunda
Tangis Sumatera Kian Membelah Hati, 914 Jiwa Gugur dan Negara Tak Boleh Menunda

Kini, saat duka menggelayut di langit Sumatera, kita tak boleh hanya meratap. Kita harus tegas dan jujur mengakui bahwa skala bencana ini tidak dapat ditangani dengan pendekatan biasa. Dengan korban tewas ratusan jiwa, ratusan hilang, ribuan rumah hancur, dan kerugian yang mencapai puluhan triliun rupiah, ini bukan lagi tragedi daerah.

Ini adalah tragedi bangsa. Status Bencana Nasional bukan sekadar payung hukum, tetapi bentuk pengakuan bahwa negara hadir penuh dan totalitas, bahwa semua kekuatan yang kita miliki, dari pusat hingga daerah, dari pemerintah hingga masyarakat, digunakan tanpa ragu demi menyelamatkan dan memulihkan.

Penetapan bencana nasional akan membuka akses sumber daya yang jauh lebih besar: personel SAR tambahan, dukungan logistik lintas provinsi, percepatan pembangunan infrastruktur darurat, serta konsolidasi yang lebih efektif antara BNPB, Kementerian, TNI-Polri, dan relawan.

Yang paling penting, status ini memberi pesan kuat bahwa kita memprioritaskan keselamatan manusia di atas segalanya. Indonesia bukan negeri yang pasrah pada bencana. Indonesia adalah negeri yang kuat, tetapi kekuatan itu harus dimobilisasi setara dengan besarnya ancaman.

Namun di tengah semua kerusakan itu, saya juga melihat sesuatu yang menenangkan: solidaritas. Di Aceh, orang-orang membuka pintu rumah yang masih utuh untuk menampung tetangga. Di Sumatera Utara, warga bergotong royong membuat dapur umum sederhana dari bahan seadanya.

Di Sumbar, relawan dari berbagai daerah berdatangan, membawa makanan, obat, pakaian, dan pelukan hangat. Bangsa ini mungkin sering berbeda pendapat dalam banyak hal, tetapi dalam duka seperti ini, kita kembali menemukan siapa diri kita, sebuah keluarga besar yang selalu bergerak bersama ketika ada saudara yang terluka.

Kita perlu membangun kembali bukan hanya rumah dan jembatan, tetapi juga keyakinan bahwa bencana dapat dicegah atau setidaknya dikurangi dampaknya melalui tata kelola lingkungan yang lebih bijaksana.

Kita perlu menanam lebih banyak pohon, menjaga kawasan hutan yang tersisa, memperbaiki tata ruang, dan memastikan setiap kebijakan pembangunan tidak mengorbankan keselamatan warga. Alam harus kita perlakukan sebagai sahabat, bukan ladang eksploitasi tanpa batas.

Jika kita melukai alam, pada akhirnya alam pula yang memulangkan luka itu dalam bentuk bencana.

Sebagai wakil rakyat dari Dapil Sumbar II, saya membawa suara tangisan para ibu yang kehilangan anaknya, suara para petani yang kehilangan ladang, suara para pengungsi yang kehilangan rumah.

Editor : Editor
Banner Infografis
Bagikan

Berita Terkait
Terkini