Lembang, - Kabut tipis turun perlahan di kawasan Lembang. Udara lembap bercampur aroma pinus tua yang ditanam sejak 1971. Di antara tegakan yang menjulang itulah Orchid Forest Cikole berdiri, sebuah ruang temu antara konservasi dan wisata.
Kawasan ini tumbuh dari kemitraan yang saling melengkapi: perusahaan umum Kehutanan Negara Indonesia (Perhutani) sebagai pemegang otoritas hutan negara dan Perhutani Alam Wisata (Palawi) Risorsis sebagai pengelola wisata, bersama Orchid sebagai konsep destinasi berbasis anggrek serta forest healing sejak 2018.
Perhutani Menjaga Tekanan
Perhutani memegang peran fundamental. Mereka memastikan hutan tetap berdiri. Pohon tidak boleh ditebang sembarangan. Penebangan hanya dilakukan jika membahayakan keselamatan pengunjung.
Curah hujan tinggi dan cuaca tak menentu menjadi tantangan tersendiri.
"Pada Januari lalu, 32 pohon roboh akibat angin kencang. Namun setiap pohon yang tumbang segera diganti. Penanaman ulang dilakukan menggunakan hasil persemaian yang telah kami kelola," ujar Manajer Cluster Lembang, Sumarsono didampingi SPV Pemasaran dan Relasi Dadan Hamdan pada Kamis, (12/2/2026) di Lembang.
Palawi Mengelola Irama Wisata
Di sisi operasional, Palawi mengatur tata kelola agar selaras dengan aturan kehutanan. Manajer cluster, Sumarsono, membawahi 23 destinasi wisata di Kabupaten Bandung Barat, Sumedang, dan Bandung.
Di Orchid Forest sendiri, sekitar 150 karyawan bekerja setiap hari menjaga kebersihan dan layanan. Sebanyak 25 pengawas memastikan operasional berjalan sesuai standar. Model ini menunjukkan bahwa wisata dapat tumbuh tanpa menggerus hutan.
"Scara keseluruhan di Pulau Jawa, Palawi mencatat keuntungan Rp39 miliar pada 2025, meningkat dari tahun sebelumnya," kata Sumarsono.
Angka itu lahir dari sistem yang menjaga keseimbangan antara ekologi dan ekonomi.
Editor : Redaksi

