“Saya akan bekerja di mana?” Itu pertanyaan yang jujur. Itu pertanyaan yang manusiawi. Dan itu pertanyaan yang baik karena ia menunjukkan bahwa ananda siap bergerak. Maka izinkan saya berbagi bukan sebagai rektor, tapi sebagai seseorang yang telah cukup lama mengamati dunia, dunia kerja, dan dunia manusia.
Lebih lanjut, kepada wisudawan disampaikanya pertama, bahwa pekerjaan pertama bukan penentu hidupmu, tapi penentu caramu belajar. Jangan panik karena belum dapat kerja saat wisuda. Jangan menerima pekerjaan yang salah hanya karena takut dianggap menganggur. Pekerjaan pertama adalah tempat belajar, bukan tempat tiba."Yang membedakan orang sukses bukan di mana ananda mulai tapi bagaimana ananda belajar dan bergerak dari titik awal itu. Mulailah. Dari mana saja yang bisa dimulai.
Kedua, dunia kerja tidak mencari ijazah. Ia mencari karakter. Ijazah ananda membuka pintu. Tapi karakterlah yang membuat kalian diizinkan tinggal di dalam. Apakah kalian menyelesaikan apa yang kalian janjikan?. Apakah kalian jujur ketika melakukan kesalahan, alih-alih mencari alasan? Disiplin, komunikasi, kejujuran, inisiatif — inilah yang langka, dan justru karena langka, menjadi sangat berharga.
Ketiga, Bangun reputasimu dari hari pertama Di hari pertama kerja, ananda mungkin merasa kecil dan tidak tahu apa-apa. Itu normal. Gunakan rasa tidak tahu itu sebagai bahan bakar untuk bertanya dan belajar. Jadilah orang yang paling ingin tahu di ruangan itu. Reputasi tidak dibangun dari satu prestasi besar — ia dibangun dari konsistensi hal-hal kecil, dari tugas yang selalu selesai tepat waktu, dari sikap yang selalu menghormati.
Keempat, Jangan jual dirimu terlalu murah. Tapi jangan menuntut sebelum memberi."Ananda adalah lulusan universitas terakreditasi Unggul, dari kampus yang diakui dunia, kalian punya nilai yangnyata. Tapi tunjukkan dulu kontribusimu sebelum menuntut penghargaan. Penghargaan datang kepada ananda yang lebih dulu memberi, bukan yang lebih dulu menuntut.
Kelima, rawat silaturahmi. Jaringan adalah aset yang tidak ada di transkrip nilaimu. Banyak pintu terbuka bukan karena lamaran, tapi karena rekomendasi. Rawatlah hubungan baik dengan dosen, teman kuliah, senior di kampus. Jadilah orang yang hadir, yang peduli, yang memberi bahkan sebelum ada yang diminta. Karena di hari yang tidak kalian duga, seseorang yang pernah kalian tolong dengan tulus akan membuka pintu yang tidak pernah kalian bayangkan.
Keenam, ingatlah: kalian bukan hanya mencari nafkah. Kalian sedang membangun warisan. Jabatan akan berakhir. Gaji akan habis. Tapi dampak dampak akan bertahan. Maka di manapun kalian bekerja nanti, tanyakan selalu satu pertanyaan ini kepada diri sendiri.“Apakah tempat ini lebih baik karena saya ada di sini?” Jika jawabannya ya. kalian sedang berjalan di jalur yang benar. Ada pepatah Minang yang saya pegang erat: “Nan buto pahambuih lasuang, nan pakak palapeh badil, nan lumpuah paunyi rumah, nan kuaik paangkuik baban, nan pandai tampek batanyo, nan cadiak lawan barundiang.”
Setiap orang punya peran. Setiap orang punya tempat. Yang penting kenali kelebihanmu, tempatkan dirimu dengan tepat, dan berikan yang terbaik dari apa yang kamu miliki.
Ditambahkanya, Unand akan merayakan Dies Natalis ke-70. Dengan rema yang di usung: “Tumbuh Berakar, Menjulang Berdampak.”. (***)
Editor : Editor

