“Seluruh pihak harus mengambil peran sesuai kapasitasnya. Yang memiliki kewenangan menggunakan kewenangannya, yang memiliki ilmu menggunakan ilmunya, dan yang memiliki pengaruh menggunakan pengaruhnya untuk menyelamatkan lingkungan. Dengan kolaborasi, Indonesia dapat menjadi contoh bagi dunia dalam pengelolaan lingkungan hidup,” ujar Jumhur.
Sementara itu, Gubernur Mahyeldi mengatakan Gerakan Tobat Ekologis memiliki makna yang sangat relevan bagi Sumbar yang dalam beberapa tahun terakhir kerap menghadapi bencana hidrometeorologi, seperti banjir dan longsor. Bencana tersebut telah menimbulkan kerusakan besar terhadap infrastruktur, lahan pertanian, hingga aktivitas masyarakat, sehingga pelestarian lingkungan harus menjadi agenda bersama yang terus diperkuat.
Menurut Mahyeldi, pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa menjaga lingkungan bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan untuk mengurangi risiko bencana di masa depan.
“Gerakan Tobat Ekologis mengajak kita melakukan perubahan nyata dalam memperlakukan lingkungan. Ketika alam dijaga, maka kita juga sedang melindungi kehidupan masyarakat dan generasi yang akan datang,” ujar Mahyeldi.Ia mengungkapkan, secara bertahap Pemprov Sumbar telah menerapkan kebijakan agar seluruh kantor pemerintahan tingkat provinsi dan sekolah yang menjadi kewenangan pemerintah provinsi mengelola sampah secara mandiri di sumbernya. Kebijakan tersebut diharapkan mampu mengurangi timbulan sampah yang dibuang ke tempat pemrosesan akhir sekaligus menumbuhkan budaya peduli lingkungan.
Editor : MS
