Kelola Sampah & Pulihkan Batang Arau, Fadly Amran Buka Peluang Kolaborasi Internasional

Wali Kota Padang Fadly Amran bersama Wali Kota Hildesheim Jerman Mr. Ingo Meyer, Perwakilan Residen UNDP Indonesia Sara Ferrer Olivella, di Convention Hall Universitas Bung Hatta, Kamis (6/8/2026). (Foto: Ist)
Wali Kota Padang Fadly Amran bersama Wali Kota Hildesheim Jerman Mr. Ingo Meyer, Perwakilan Residen UNDP Indonesia Sara Ferrer Olivella, di Convention Hall Universitas Bung Hatta, Kamis (6/8/2026). (Foto: Ist)

Padang, - Dalam rangka meramaikan Hari Jadi Kota Padang ke-357, digelar Simposium Internasional Ekosistem Kota Tua Padang bertema Warisan, Sungai, Pasar, dan Lingkungan untuk Pariwisata Berkelanjutan di Convention Hall Universitas Bung Hatta, Kamis (6/8/2026).

Kegiatan ini menjadi wadah berbagi pengetahuan, diskusi strategis, serta memperkuat kerja sama lintas negara dan wilayah demi pelestarian kawasan bersejarah, pemulihan lingkungan, dan pembangunan pariwisata yang ramah lingkungan serta bermanfaat jangka panjang bagi masyarakat.

Acara dibuka resmi oleh Wali Kota Padang Fadly Amran. Turut hadir Wali Kota Hildesheim Jerman Mr. Ingo Meyer, Perwakilan Residen UNDP Indonesia Sara Ferrer Olivella, Rektor Universitas Bung Hatta Diana Kartika, delegasi dari Malaysia dan Thailand, serta perwakilan pemerintah daerah dan pemangku kepentingan dari berbagai wilayah di Indonesia.

Dalam arahannya, Fadly Amran menekankan dua tantangan utama yang menjadi fokus utama pembangunan kota saat ini: pengelolaan sampah perkotaan dan pemulihan Sungai Batang Arau.

Kedua hal tersebut saling berkaitan erat dan menjadi syarat mutlak menciptakan lingkungan bersih, sehat sekaligus mengangkat daya tarik wisata daerah.

Data yang disampaikan menunjukkan Kota Padang menghasilkan rata-rata 669 ton sampah setiap harinya.

Sebanyak 73 persen diangkut ke Tempat Pemrosesan Akhir, 26 persen telah dikelola melalui program daur ulang dan pengurangan sampah 3R, sementara masih ada 1 persen yang dibuang secara sembarangan ke tempat terbuka dan aliran air.

Masalah sungai semakin terasa di bagian hilir Batang Arau yang tercemar akibat aliran air kotor, sampah rumah tangga, pasar, dan kawasan usaha.

Oleh sebab itu, pemulihan sungai tidak bisa hanya sekadar pengerukan, melainkan harus menekan sumber pencemaran lewat peningkatan infrastruktur persampahan, pengelolaan air limbah, serta penerapan teknologi dan penyerapan ilmu pengetahuan baru.

“Transformasi pengelolaan sampah harus dimulai dari pemilahan di sumber, bukan hanya peningkatan kualitas TPA. Karena itu, Pemko Padang menggulirkan Padang Rancak Award untuk mendorong perubahan perilaku masyarakat, sekaligus memperkuat Lembaga Pengelola Sampah, bank sampah, serta mengembangkan teknologi bahan bakar turunan sampah dan pembangkit energi dari limbah,” jelas Fadly.

Editor : Editor
PWI SumbarHJK Padang 357 - JPSHJK Padang 357 - JPS 2HJK Padang 357 - FWP DPRD SumbarHJK Padang 357 - KI Sumbar
Bagikan

Berita Terkait
Terkini