Melalui sentuhan kreativitas para kader dan masyarakat, lumpur yang identik dengan sesuatu yang kotor justru diangkat menjadi inspirasi mahakarya sandang bernilai tinggi. Pesan yang ingin disampaikan sangat jelas: potensi lokal, sekecil apa pun, dapat menjadi sumber daya yang bernilai apabila dikelola dengan kreativitas, keterampilan, dan semangat pemberdayaan.
“Goresan Lumpur Ranah Cati Nan Tigo” pun menjelma menjadi sebuah simbol. Simbol tentang bagaimana tradisi dan kearifan lokal dapat berjalan beriringan dengan inovasi serta penguatan ekonomi keluarga.
Penampilan tersebut sekaligus menjadi representasi semangat TP-PKK Dharmasraya dalam mendorong keluarga agar tidak hanya menjadi penerima manfaat pembangunan, tetapi juga menjadi pelaku utama pemberdayaan dan penggerak ekonomi masyarakat.
Melalui 10 Program Pokok PKK, gerakan pemberdayaan keluarga terus diperkuat hingga ke tingkat kecamatan, nagari, kelompok Dasawisma, dan keluarga. Rantai pemberdayaan tersebut menjadi kekuatan penting dalam membangun keluarga yang sehat, mandiri, produktif, dan sejahtera.Keikutsertaan TP-PKK Dharmasraya pada HKG PKK ke-54 dan Wirakarya (Jambore) Kader PKK ke-XXII Tingkat Provinsi Sumatera Barat Tahun 2026 menjadi momentum untuk menunjukkan bahwa Dharmasraya tidak hanya hadir untuk berpartisipasi, tetapi hadir membawa karya, gagasan, dan identitas daerah.
Editor : MS