Sejak awal komunikasi bang Akbar dengan orang yang menghubungi, tak ada keinginan saya mendengar atau mencuri dengar pembicaran, namun sebuah kalimat diucapkannya berulang, tapi saya iseng menebak saja.“Anaknya, ya bang?” tanya saya sekenanya, setelah ia meletakkan telpon genggamnya di dasboar speed boat.
“Iya, pak. Anak saya,” katanya sedikit bergetar.Sejenak ia terdiam, kemudian merapikan kembali posisinya dan mulai sedikit menaikkan kecepatan speed boatnya.
“Ia melarang saya berangkat sore ini,” katanya melanjutkan.“Kenapa?” sambung saya bertanya.
“Ia tak mau saya berangkat. Tadi saat dari Nunukan, saya dilarangnya berangkat. Ia juga melarang saya menerima order carteran ini,” ungkapnya lalu melanjutkan, selama ini tak pernah anaknya melarang dia melaut. Ia juga tahu, bapaknya tidak memiliki keahlian lain, kecuali sudah terbiasa melaut sejak muda.Entah kenapa, sambung bang Akbar, ketika ia menerima order untuk berangkat sore dari Pulau Sebatik ke Tarakan, anaknya mengawal dan melarangnya menerima order tersebut. Tak ada penjelasan dari anaknya, ia hanya melarang saja.
“Kalau tak saya terima, dengan apa saya bayar kekurangan speed boat ini?” tanyanya sembari melihat ke belakang. Tatapan saya dan pandangannya beradu. Saya memaklumi kebutuhannya. Speed boat itu baru saja dibelinya dari seorang kenalan di Nunukan. Harganya Rp 60 juta, ia baru membayar Rp 40 juta.Ketika ia dihubungi ada yang hendak mencarter speed boatnya, bang Akbar sedang berada di Nunukan. Saat harga dan jadwal disepakati, ia langsung tancap gas dari Nunukan ke Sebatik. Katanya, ia langsung ambil kecepatan tinggi sehingga sampai di Sebatik lebih cepat 30 menit dari jadwal pelayaran reguler.
“Anak saya sangat kuatir. Katanya, perasaannya tak tenang,” kata bang Akbar.Di ujung percakapan bang Akbar lewat telpon genggamnya, saya mendengar, ia mengungkapkan kalimat yang sama secara berulang. Kalau tak salah hitung, ada tiga kali ia mengungkapkan kalimat tersebut.“Doakan bapak selamat, ya nak!”“Doakan bapak selamat, ya nak!”
“Doakan bapak selamat, ya nak!” pintanya.Saya tak tahu apa jawaban dari anaknya di seberang lautan sana. (*bersambunh, harian rakyat sumbar)
Editor : Adrian Tuswandi, SH