[caption id="attachment_2888" align="aligncenter" width="1280"]
12 rombongan Kemendes termasuk tiga wartawan Sumbar, sehabis menghadiri upacara HUT RI di Sebatik Beranda Negara, delapan jam alamk terombang-ambibg di laut antara Sebatik-Tarakan, Kamis 17 Agustus malam.[/caption]Pengantar
Kamis – Jumat (17-18 Agustus 2017) lalu, sebuah speadboat berisi 12 penumpang dari rombongan Kemendes PDTT, terkatung-katung dihempas badai dan ombak besar di laut Sebatik Nunukan-Tarakan Kalimantan Utara. Rombongan ke Tarakan, setelah memperingati upacara detik-detik proklamasi di Pulau Sebatik.Kisah nyata pengalaman antara hidup dan mati brrharap pertolongan Illahi, membayangkan diri masuk ek kantong mayat karena hangut atau tenggelam. dWartawan Harian Umum Rakyat Sumbar Firdaus, satu dari 12 rombongan, menuliskan pengalamannya dalam bentuk bertutur disadur utuh okeh www.tribunsumbar.com, naskah ketujuh. besok; Azura Penyambung Harapan.
LEWAT pukul sembilan malam, kami terdampar di pantai bagian barat Pulau Bunyu. Pantainya tak berpenghuni. Gelap. Berhutan. Ada beberapa anak sungai, tak jauh dari posisi speedboat kami didamparkan bang Akbar.“Jangan ada yang turun dari speedboat,” kata bang Akbar, saat saya melihat sekeliling melalui jendela speedboat. Pandangan saya agak terganggu. Terhalang butiran hujan dan air laut yang menempel di sana.
Bang Akbar keluar dari speedboat melalui jendela depan. Ia memanggil si Mas. Tak ada jawaban. Tiga kali ia memanggil, tetap tak ada jawaban. Penumpang bagian belakang juga tak ada yang tahu. Adrian Tuswandi, owner www.tribunsumbar.com, yang sejak awal berada dibagian belakang terkejut. Ia tak menyadari Mas tak ada di belakang.“Jangan-jangan ia jatuh ke laut?” tanyanya.
Semua tersentak, tapi tak lama berselang, bang Akbar seakan bicara dengan seseorang. Adrian memanjat bagian belakang speedboat, ternyata si Mas sudah berada di atap. Ia sudah bicara dengan bang Akbar. Keduanya tampak bergerak sigap mengikat bagian belakang speedboat dan ditautkan pada pohon di pantai.Tak lama berselang, bang Akbar kembali ke posisinya di belakang kemudi. Ia menggapai sebuah kotak persis di depan Nugroho Notosutanto, Kabag Perencanaan Umum Setjen Kemendes PDTT. Ia mengeluarkan bajunya, “waduh, basah semua,” katanya.
Ada nada tak baik darinya. Ia kemudian terus mengeluarkan satu persatu, namun belakangan ia melantunkan ucapan syukur, “Alhamdulillah, Alhamdulillah, baju salat saya masih kering,” katanya senang.Ia bergegas membuka bajunya yang basah kuyup. Celananya yang dipakai juga basah. Baju dan celana cadangannya juga basah, kecuali baju salat (koko) putih.Ia berulangkali mengucapkan syukur. Setelah memakai baju koko putih, bang Akbar duduk tersandar. Ia meringkuk kedinginan. Kakinya dinaikkan ke kursi, dilipat bertaut dengan tubuhnya.Suasana hening seketika. Sejurus kemudian, lima telpon selular dapat signal. Ada satu batang signal disetiap handpone. Datuk Febby menghubungi Indra Salim, staf ahli Menteri Desa PDTT. Ia minta agar disampaikan kepada Menteri Desa PDTT Eko Putro Sandjojo.
“Kami di pantai barat pulau Bunyu,” kata Tina Istiana Syamsul, Staf Perencanaan Umum Setjen Kemendes PDTT.Ia menerima telpon dari seseorang yang disebutnya Pak Nelayan, sesuai nama yang ditulis dikontak selularnya. Orang tersebut sebenarnya bukan nelayan, tetapi jurumudi dan pemilik speedboat Azura. Tina beserta staf Kemendes PDTT lainnya, menyeberangi laut Nunukan – Sebatik, dua hari sebelumnya, naik speedboat Azura.
Saya menghubungi anak dan isteri, namun sama sekali tak mengabarkan kondisi sesungguhnya. Saya takut, mereka akan cemas sepanjang malam. Saya tahu, isteri saya termasuk tipe orang pencemas.Nugroho mengingatkan agar selular yang aktif dijaga batrainya. Jika batrai lemah, akan menghadirkan masalah baru untuk kontak.
Tak lama berselang, handpone di bagian belakang saya kembali berbunyi. Saya tak tahu handpone siapa, namun saya mendengar Tina dan Julie berteriak gembira mengabarkan. Ada telpon masuk dari Bakamla, tapi keduanya ragu menjawab. Ia memberikan kepada Adji Setyo Nugroho.Adji yang kalem, berpenampilan tenang, menerima selular dari tangan Tina. Ia menyahuti panggilan dari seberang. Ada sedikit basi-basi disampaikan Adji. Ada kalimat pengantar dan penjelasan.
Editor : Adrian Tuswandi, SH