“Langsung ke pokok masalah saja, Ji. Jangan pakai basa-basi,” potong Datuk Febby lantang.Hubungan putus, kemudian tersambung lagi. Begitu berulang kali. Beberapa kali pula telpon yang dipegang Adji masuk nomor tak dikenal, namun ia tetap menyahut. Pergantian nomor-nomor telpon yang masuk ternyata dari orang-orang berbeda di Bakamla. Begitupun telpon dari Pak Nelayan, masuk beberapa kali.
Bang Akbar mengeliat. Ia merentangkan tangannya, “Alhamdulillah, saya dapat tidur sebentar. Lumayan untuk pemulihan,” katanya sembari mengganti posisi duduknya. Ia tertidur hampir satu jam.“Mimpi isteri saya jadi kenyataan,” katanya.
Saya tersentak. Nugroho Notosutanto kemudian menyela, ia menanyakan maksud bang Akbar, “tiga hari lalu isteri saya bermimpi, saya terkatung-katung di laut,” kata bang Akbar.“Benarkah, bang?” Datuk Febby, staf ahli Menteri Desa PDTT, melanjutkan pertanyaan. Saya tak tahu kapan ia bangun. Tadi, tak lama setelah menghubungi Indra Salim, saya melihat ia tidur bersandar ke dinding speedboat. Tidurnya disertai sedikit dengkuran.
Bang Akbar memalingkan wajahnya kepada Datuk Febby. Ia kemudian menceritakan, tiga hari lalu, isterinya bermimpin. Speedboat yang dikemudikan bang Akbar terombang-ambing di lautan. Ia tak tahu di mana posisi speedboat terombang-ambing. Sekeliling gelap. Nyaris tak ada cahaya. Lampu speedboat hidup mati. Hujan turun sangat deras. Angin sangat kencang. Ombak besar gulung-bergulung.Dalam mimpinya, kata bang Akbar, penumpang speedboatnya sangat banyak, namun tak seorangpun yang dikenal sebelumnya. Speedboat terombang-ambing dalam gelap malam yang kelam.
“Saya katakan padanya, mimpi hanya bunga tidur. Ia menolak, katanya Allah mengirim firasat padanya,” bang Akbar menerangkan.Selepas mimpi malam yang menakutkan isterinya, sang isteri mendatangi ustad. Malamnya mereka mengadakan doa. Doa tolak bala, “Saya ikuti saja permintaannya agar ia tenang dan tak kuatir lagi,” kata bang Akbar.
Ia kemudian teringat anaknya. Saat bang Akbar mendapat order, speedboatnya dicarter ke Tarakan, ia mengabarkan isteri dan anaknya. Sang anak menolak. Ia meminta bang Akbar tidak menerima carteran ke Tarakan. Berlayar di malam hari, mengarungi lautan Pulau Sebatik – Tarakan, sangat berbahaya, apalagi menggunakan speedboat Berkat Doa Ibu, yang hanya bermesin satu.Masih cerita bang Akbar. Sebenarnya saat ia hendak menuju laut dari dermaga di Pulau Sebatik, anaknya menelpon. Ia tetap meminta agar tidak berlayar malam. Tunggu besok atau batalkan saja carteran. Anaknya mengabarkan rasa kuatir dalam dirinya terhadap perjalanan bang Akbar. Berulangkali anaknya meminta, berulangkali pula bang Akbar meyakinkannya.
Bang Akbar bercerita. Kekuatiran anaknya bukan tanpa alasan. Speedboat yang dikemudikan bapaknya, selama ini hanya menjalani rute Nunukan – Sebatik, pulang pergi. Perjalanannya tidak terlalu lama. Sekitar satu jam perjalanan menggunakan Berkat Doa Ibu.Jika menggunakan speedboat lebih besar, bermesin dua atau tiga, bisa lebih cepat. Bisa setengah jam. Saya teringat speedboat Sadewa. Bermuatan 50 orang, sesuai nomor urut di kursinya, bermesin empat, menempuh perjalanan Tarakan – Sebatik hampir 2,5 jam.Tak salah rasanya, saat sebelum berangkat dari pelabuhan di Sebatik, Adrian Tuswandi menyebutkan, paling cepat speedboat ini berlayar ke Tarakan hingga empat jam.“Bagaimana kisah akhir mimpi isteri abang?” tanya saya iseng.
“Yakinlah, kita semua pasti selamat,” katanya, namun Datuk Febby menimpali. Ia menanyakan kisah lanjutan dari mimpi isteri bang Akbar, sembari menjelaskan pertanyaan saya kepada bang Akbar.“Kita selamat. Allah menyelamatkan kita melalui pertolongan banyak orang,” katanya, namun ia tak merinci siapa saja yang menolong.
“Kita ikut dibawa dalam mimpi isteri bang Akbar. Kita semua jadi pemeran dalam mimpi itu,” kata Datuk Febby.“Saya mohon maaf,” pinta bang Akbar.*(bersambung, sumber harian rakyat sumbar)
Editor : Adrian Tuswandi, SH