Solok,--- Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Andalas (UNAND) di Nagari Saniangbaka pada Sabtu 22 Juli 2023 telah melaksanakan pengabdian salah satu program kerja di bidang sosial masyarakat.Kegiatan sosial kemasyarakatan ini berbasis keluarga, di mana 3 orang mahasiswa mengunjungi rumah warga untuk membantu mengembangkan usaha dan membantu terkait permasalahan pelaku usaha.
Usaha keluarga yang dikunjungi adalah usaha Sulaman Benang Emas oleh Bu Masnah. Mahasiswa yang terlibat dalam kegiatan ini, yaitu Riri Permata Sari, Sofia Ananda, dan Reisya Chalis.Dalam perkembangannya Nagari Saniangbaka terdapat usaha ekonomi kreatif, salah satunya Sulaman Benang Emas. Sulaman Benang Emas berasal dari Nagari Saniangbaka Kecamatan X Koto Singkarak, Kabupaten Solok, Sumatra Barat.
Benang emas adalah jenis benang sintetis yang memiliki tekstur kasar, tetapi menimbulkan kilauan. Sulaman Benang emas mempunyai keindahan tersendiri, dibuat menggunakan tangan serta proses pembuatan yang cukup lama.Nagari Saniangbaka mempunyai adat yang turun temurun dilakukan yakni saat menggelar pernikahan wajib memakai Benang Emas.
Mahasiswa Universitas Andalas belajar sekaligus membantu Bu Masnah menyulam Benang Emas untuk tempat duduk marapulai yang akan dijualkan. Proses pembuatannya dengan cara menempelkan Benang Emas dengan tusuk balut dan motifnya yang beragam sehingga memberikan kesan indah dan mewah.Bu Masnah sebagai pengrajin Benang Emas, sudah menjalani usaha Benang Emas sejak 1972, sempat merantau tetapi melanjutkan usaha kembali pada tahun 2007.
Bu Masnah menjual Benang Emas untuk membuat songket, kelambu, tempat duduk marapulai, dan lain sebagainya. Benang Emas usaha Bu Masnah sudah terjual ke beberapa Nagari di Kecamatan X Koto Singkarak yaitu, Paninggahan, Singkarak, Muaro Pingai, Malalo, dan Koto Sani.Sulaman Benang Emas memiliki nilai jual yang tinggi dan sangat potensial untuk dikembangkan. Akan tetapi, terdapat kendala pada produksi Benang Emas di Nagari Saniangbaka, yaitu minimnya minat generasi muda untuk menjadi penerus. Tak banyak anak muda yang punya keinginan dan bakat dalam menyulam, serta minat anak muda untuk melestarikan benang emas juga rendah.“Sedikit minat belajar anak muda zaman sekarang untuk menyulam Benang Emas, bahkan pengrajin Benang Emas hanya di dominasi oleh generasi tua tanpa adanya generasi muda yang meneruskan, hal ini bisa berdampak hilangnya budaya Benang Emas ini” ujar Bu Masnah.Era globalisasi berdampak pada pengrajin sulaman Benang Emas, sehingga seiring berjalannya waktu Benang Emas mulai punah.
Zaman semakin modern namun generasi ke generasi mulai melupakan budaya yang seharusnya dilestarikan. Dalam hal ini, diperlukan kesadaran anak muda generasi penerus bangsa dengan memberikan edukasi terkait pentingnya melestarikan budaya dan memberikan pelatihan tentang bagaimana membuat sulam Benang Emas.“Menyulam Benang Emas memerlukan kesabaran dan ketelitian dalam proses pembuatannya, mungkin ini menjadi faktor sedikit anak muda yang tertarik untuk belajar sulaman Benang Emas, ada baiknya sekolah - sekolah yang ada di Nagari Saniangbaka mengadakan ekskul Benang Emas kepada siswi – siswi, agar kembalinya minat pemuda untuk belajar Benang Emas” ungkap Riri sebagai salah satu mahasiswa yang melakukan kegiatan Sosmas ini.
Peran pemerintah juga diperlukan untuk memperkenalkan budaya sulam Benang Emas ke daerah lain. Semakin banyak orang mengetahui tentang budaya sulam Benang Emas, semakin terjaga pula eksistensi dari Benang Emas. Dengan harapan banyak generasi muda yang tertarik dan bisa mengembangkan ekonomi kreatif yang ada di Nagari Saniangbaka ini.(reisya chalis/KKN-UNAND)
Editor : Adrian Tuswandi, SH

