Harga turun. Transaksi cepat. Semua tampak efisien. Namun dalam konteks makro ekonomi, persoalannya tak sesederhana itu.
Pasar nyata membutuhkan ruang fisik. Butuh investasi. Butuh izin usaha. Butuh tenaga kerja. Butuh listrik, air, keamanan. Semua itu menciptakan efek berganda ekonomi—multiplier effect.
Satu toko menggaji karyawan. Karyawan membelanjakan gajinya di warung sekitar. Warung membeli barang dari distributor lokal. Distributor menggaji sopir. Sopir berbelanja lagi di daerah yang sama. Uang berputar di wilayah itu. Itulah denyut makro ekonomi daerah.
Sebaliknya, pasar ghoib cenderung memusatkan perputaran uang. Kantor pusat platform berada di kota besar, bahkan di luar negeri. Sistem pembayaran terhubung ke pusat. Margin keuntungan terkonsentrasi pada korporasi digital.
Di sinilah persoalan serius muncul: cash out flow. Uang masyarakat daerah yang bertransaksi melalui platform digital tidak sepenuhnya berputar di daerah tersebut. Ia mengalir keluar—ke pusat logistik, ke rekening perusahaan di kota besar, bahkan ke luar negeri.
Bayangkan ribuan transaksi setiap hari dari satu kabupaten. Jika sebagian besar keuntungan dan margin platform tidak tinggal di daerah, maka yang terjadi adalah pengurasan likuiditas lokal.Uang keluar lebih besar daripada yang kembali.
Dalam jangka pendek mungkin tak terasa. Namun dalam jangka panjang, dampaknya nyata:
- Perdagangan lokal melemah.
- Daya beli stagnan.
- Lapangan kerja menyusut.
- Investasi ritel menurun.
Ketika retail konvensional tutup, karyawan kehilangan pekerjaan. Ketika mall sepi, tenant tak sanggup membayar sewa. Ketika toko kelontong meredup, rantai pasok lokal ikut terganggu.
Dan pada saat yang sama, uang yang seharusnya berputar lima hingga enam kali di dalam daerah, kini hanya lewat sekejap lalu keluar. Inilah yang meredupkan makro ekonomi sebuah wilayah.