Pasar Ghoib

Foto Two Efly

Pasar tradisional lengang bukan hanya soal perubahan gaya hidup. Itu pertanda melemahnya sirkulasi uang lokal. Lebih banyak pedagang daripada pembeli. Lebih banyak etalase terbuka daripada transaksi terjadi.

Jika tren ini terus berlangsung tanpa penataan, daerah-daerah akan menjadi sekadar pasar konsumsi. Hanya menjadi tempat belanja, bukan tempat pertumbuhan ekonomi.

Uang masuk sebentar, lalu keluar dalam jumlah besar. Daerah kehilangan daya tahan ekonominya. Inilah bahaya yang jarang dibicarakan.

Pasar ghoib memang pisau bermata dua. Ia memberi kemudahan dan efisiensi. Banyak UMKM tumbuh karenanya. Tetapi tanpa regulasi dan tata kelola yang adil, ia juga menciptakan ketimpangan.

Pasar konvensional dibebani pajak dan regulasi. Sementara sebagian aktivitas digital bergerak lebih ringan. Ketimpangan ini harus disikapi dengan kebijakan yang bijak—bukan untuk mematikan inovasi, tetapi untuk menjaga keseimbangan.

Governance harus hadir. Regulasi harus ditegakkan. Struktur pasar harus ditata ulang. Jika pasar konvensional memikul beban, maka pasar digital pun harus berada dalam koridor tanggung jawab yang setara.

Jangan biarkan kanal media sosial sepenuhnya berubah menjadi lapak tanpa pengawasan. Jangan biarkan arus uang daerah terus mengalir tanpa rem. Karena jika dibiarkan, satu per satu pelaku ekonomi konvensional akan tumbang. PHK akan terus terjadi. Dan yang lebih berbahaya, daerah akan kehilangan daya hidup ekonominya.

Cash out flow yang tak terkendali bukan sekadar soal transaksi daring. Ia adalah soal kedaulatan ekonomi daerah. Jika uang masyarakat lebih banyak menghidupi pusat daripada menggerakkan wilayahnya sendiri, maka perlahan tapi pasti makro ekonomi daerah akan meredup.

Kita tidak menolak teknologi. Kita tidak anti kemajuan. Tetapi keseimbangan harus dijaga.

Pasar ghoib adalah realitas. Ia bisa menjadi berkah. Namun tanpa penataan yang adil, ia juga bisa menjadi penguras senyap yang melemahkan sendi-sendi ekonomi daerah.

Banner Infografis
Bagikan

Opini lainnya
Terkini