Selat Hormuz dan Bayang-Bayang Krisis Energi Global

Foto Two Efly

Peristiwa serangan terhadap fasilitas minyak di Arab Saudi pada 2019 menjadi bukti bahwa satu insiden saja dapat mengguncang pasar energi dunia.

Ketiga, meluasnya konflik menjadi perang regional. Jika perang tidak lagi terbatas pada dua negara dan mulai melibatkan beberapa kekuatan besar di Timur Tengah, gangguan terhadap produksi minyak bisa terjadi secara bersamaan.

Skenario seperti ini berpotensi memicu krisis energi global seperti yang pernah terjadi pada krisis minyak 1973. Pada masa itu harga energi melonjak tajam dan ekonomi dunia mengalami tekanan berat.

Agenda Ketahanan Energi

Dalam situasi seperti ini, Indonesia perlu memperkuat ketahanan energinya. Ada beberapa langkah strategis yang perlu diprioritaskan.

Pertama, mendiversifikasi sumber impor minyak agar tidak terlalu bergantung pada satu kawasan tertentu. Indonesia musti mencari sumber sumber minyak baru dari beberapa negara penghasil Minyak seperti Brazil, Nigeria dan negara penghasil minyak lainnya.

Kedua, meningkatkan cadangan minyak nasional. Saat ini cadangan energi Indonesia relatif kecil, hanya mampu menopang kebutuhan sekitar tiga hingga empat minggu. Kebijakan ini harus dievaluasi. Cadangan minyak nasional sudah harus ditingkatkan.

Kita musti belajar dari pengalaman. Naik drastisnya konsumsi BBM nasional dalam beberapa dekade belakangan mustilah diimbangi dengan peningkatan cadangan nasional. Storage penampungan BBM nasional musti ditambah. Secepatnya Indonesia mustilah membangun Storage baru disejumlah pulau pulau besar di Indonesia.

Ketiga, mempercepat transisi energi melalui program biodiesel, pengembangan energi terbarukan, serta perluasan penggunaan kendaraan listrik. Keempat, meningkatkan produksi energi domestik melalui eksplorasi blok migas baru dan pembangunan kilang minyak baru.

Kelima, mengelola subsidi energi secara lebih tepat sasaran agar beban fiskal tetap terkendali jika harga minyak dunia melonjak.

Ketegangan di Selat Hormuz adalah pengingat bahwa stabilitas energi global sangat rapuh. Selama Indonesia masih bergantung pada impor minyak, setiap gejolak geopolitik di pasar energi dunia akan selalu membawa risiko bagi perekonomian nasional. Ketahanan energi bukan lagi sekadar pilihan kebijakan. Ia telah menjadi kebutuhan strategis bagi masa depan ekonomi Indonesia. (***)

Banner Infografis
Bagikan

Opini lainnya
Terkini